Selasa 11 Aug 2026 07:22 WIB

Dari Pedalaman Papua Menuju Kampus, Sebuah Jalan Panjang Pendidikan

Namun perjalanan pendidikan mereka baru saja dimulai.

Sebanyak 65 anak Papua menginjakkan kaki di Pelabuhan Tanjung Priok, Selasa (11/8/2026). Mereka baru saja menempuh perjalanan laut selama tujuh hari dari Jayapura.
Foto: .
Sebanyak 65 anak Papua menginjakkan kaki di Pelabuhan Tanjung Priok, Selasa (11/8/2026). Mereka baru saja menempuh perjalanan laut selama tujuh hari dari Jayapura.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Langit Jakarta baru mulai terang ketika 65 anak Papua menginjakkan kaki di Pelabuhan Tanjung Priok, Selasa (11/8/2026). Mereka baru saja menempuh perjalanan laut selama tujuh hari dari Jayapura.

Bagi sebagian orang, perjalanan itu mungkin hanya sebuah pelayaran antarpulau. Namun, bagi anak-anak tersebut, kapal yang membawa mereka ke Jakarta adalah bagian dari perjalanan panjang menuju masa depan.

Tanjung Priok bukan tujuan akhir. Dari pelabuhan itu, mereka akan melanjutkan pendidikan di Sekolah Lentera Harapan (SLH) Gunung Moria, Tangerang, dan peguruan tinggi lainnya. Mereka merupakan siswa kelas 7 hingga kelas 10 yang berasal dari sejumlah wilayah pedalaman Papua.

Mereka datang dari Nalca, Korupun, Danowage, Daboto, Mokndoma, Waisai, Sentani, dan Tarup. Sebanyak 22 siswa berasal dari Korupun, 19 dari Nalca, 12 dari Mokndoma, enam dari Danowage, serta lainnya dari wilayah tersebut.

Kedatangan para siswa disambut Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk bersama pimpinan Pelni, Pelindo, dan YPHP. Ribka mengatakan anak-anak Papua harus memiliki kesempatan untuk belajar dan mencapai pendidikan setinggi-tingginya. Menurut dia, tantangan geografis tidak semestinya menjadi batas bagi masa depan mereka.

“Anak-anak Papua harus mendapatkan kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan mencapai pendidikan setinggi-tingginya,” kata Ribka.

Perjalanan mereka dimulai dari Jayapura pada 4 Agustus 2026. Selama tujuh hari di laut, para siswa didampingi 32 orang yang terdiri atas rohaniawan, guru, dokter, perawat, dan tenaga medis.

Bagi sebagian anak, perjalanan itu menjadi pengalaman yang jauh berbeda dari kehidupan mereka sehari-hari. Mereka yang tumbuh di wilayah pegunungan dan kampung-kampung terpencil kini melihat kapal besar, pelabuhan, hamparan laut, serta kehidupan di berbagai daerah Indonesia.

Karena itu, perjalanan tersebut bukan sekadar soal bagaimana mereka sampai di Tangerang. Pelayaran itu sekaligus menjadi ruang belajar yang memperlihatkan kepada anak-anak tersebut bahwa dunia yang dapat mereka jelajahi jauh lebih luas dari kampung halaman mereka.

Program ini dikembangkan Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) untuk memastikan pendidikan anak-anak Papua tidak berhenti hanya karena keterbatasan geografis. Selama hampir tiga dekade, YPHP mengembangkan pelayanan pendidikan melalui jaringan Sekolah Lentera Harapan di berbagai wilayah pedalaman Papua.

Pelayanan tersebut kini menjangkau lebih dari 1.500 siswa di sejumlah wilayah, antara lain Mamit, Daboto, Karubaga, Nalca, Korupun, Danowage, Tumdungbon, Mokndoma, Saman, dan Holuwon.

Bagi YPHP, mendirikan sekolah dasar di dekat tempat anak-anak tinggal merupakan langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan mereka tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ketika memasuki usia remaja.

Jarak geografis, keterbatasan sekolah lanjutan, dan kondisi sosial menjadi sejumlah tantangan yang dapat membuat perjalanan pendidikan anak terhenti. Karena itu, YPHP membangun jalur pendidikan berkelanjutan dengan memberikan kesempatan kepada sebagian siswa untuk melanjutkan SMP dan SMA di SLH Gunung Moria, Tangerang.

Di sekolah berasrama yang berada dalam lingkungan Universitas Pelita Harapan tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan akademik. Mereka juga dibekali pembentukan karakter, kemandirian, kecakapan hidup, dan pengalaman untuk mempersiapkan diri memasuki pendidikan tinggi.

Perjalanan tahun ini menjadi yang ketiga bagi program tersebut. Pada 2023, sebanyak 152 siswa dari Papua menempuh perjalanan menggunakan KM Ciremai dengan pendampingan 11 guru dan enam perawat. Setahun kemudian, 162 siswa kembali melakukan perjalanan menggunakan KM Dobonsolo bersama 18 guru dan tujuh perawat.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi