Selasa 04 Aug 2026 16:10 WIB

Alasan BMKG Perkirakan El Nino Saat Ini tak akan Sekering 1997

BMKG sebelumnya menyatakan El Nino 2026 telah memasuki kategori kuat.

Petani menyiram tanaman tembakau dengan air sumur di Lengkong, Nganjuk, Jawa Timur, Senin (3/8/2026). Sejumlah petani tembakau di kawasan tersebut saling berbagi air sumur untuk menjaga pasokan air irigasi dan mempertahankan produktivitas lahan di tengah terbatasnya ketersediaan air selama musim kemarau yang dipicu El Nino.
Foto: ANTARA FOTO
Petani menyiram tanaman tembakau dengan air sumur di Lengkong, Nganjuk, Jawa Timur, Senin (3/8/2026). Sejumlah petani tembakau di kawasan tersebut saling berbagi air sumur untuk menjaga pasokan air irigasi dan mempertahankan produktivitas lahan di tengah terbatasnya ketersediaan air selama musim kemarau yang dipicu El Nino.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi musim kemarau 2026 berpotensi tidak sekering saat El Nino 1997, meskipun kondisi El Nino saat ini telah memasuki kategori kuat. Hal itu berdasarkan analisis perbandingan kondisi peluang hujan bulanan, di mana musim kemarau 2026 secara umum diperkirakan tidak lebih kering dibandingkan periode El Nino 1997.

Meskipun demikian, pelaksana Harian Deputi Bidang Klimatologi BMKG sekaligus Direktur Perubahan Iklim Fachri Radjab mengatakan, BMKG mencatat sejumlah wilayah seperti Kalimantan, Papua, dan Jawa pada September-November 2026 berpotensi mengalami kondisi lebih kering dibandingkan 1997. Ia menjelaskan pada Agustus 2026 kondisi kemarau tidak menunjukkan peluang lebih kering dibandingkan 1997.

Baca Juga

Namun, mulai September hingga November 2026 sejumlah wilayah memiliki probabilitas lebih kering cukup tinggi, antara lain sebagian besar Kalimantan dan Papua dengan peluang mencapai 80-90 persen, beberapa wilayah di Pulau Jawa pada Oktober, serta sejumlah daerah lain pada November.

BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus hingga September. Sekitar 54 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami puncak kemarau pada Agustus, sementara sebagian wilayah lainnya akan mengalaminya pada September.

Selain membandingkan dengan El Nino 1997, BMKG juga melihat karakteristik El Nino 2026 dibandingkan sejumlah kejadian sebelumnya. Fachri menyebut berdasarkan perbandingan dengan tiga kejadian El Nino dalam 15 tahun terakhir, yakni pada 2015, 2019, dan 2023, kondisi kemarau 2026 diperkirakan lebih mendekati pola El Nino 2023.

photo
Ratusan hektare sawah di Desa Mekarjaya, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat mengalami gagal panen akibat kekeringan. - (Dok Republika)

Fachri mengatakan meskipun kondisi kemarau 2026 diperkirakan tidak sekering El Nino 1997, pemerintah tetap perlu mewaspadai dampak lanjutan, salah satunya peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurut dia, ketika kondisi lahan semakin kering, potensi munculnya titik panas atau hotspot juga meningkat.

Berdasarkan pemantauan BMKG hingga 2 Agustus 2026, tercatat sekitar 5.690 titik panas yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.

"Ini juga perlu kita antisipasi mengingat bulan Agustus dan September kita sudah masuk ke puncak musim kemarau. Artinya potensi hotspot juga akan semakin meningkat," ujar Fachri.

BMKG menyatakan El Nino yang mulai aktif pada Juni 2026 telah memasuki fase kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. El Nino diperkirakan berlangsung selama sekitar 9–12 bulan atau hingga sekitar Mei 2027. Namun, kondisi tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode El Nino berlangsung.

Curah hujan pada Agustus hingga September 2026 diperkirakan berada pada kategori rendah hingga sangat rendah sehingga meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah. Sementara itu, musim hujan diperkirakan mulai berlangsung pada pertengahan Oktober 2026 sehingga pengaruh El Nino terhadap pola hujan di Indonesia diperkirakan semakin berkurang.

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi