Jumat 31 Jul 2026 18:25 WIB

Kepala BGN tak Terima Program MBG Disebut Habiskan Anggaran, Singgung Sekolah Rusak

Sekolah rusak disebut sudah banyak ditemukan sebelum program MBG berjalan.

Rep: Bayu Adji Prihammanda/ Red: Mas Alamil Huda
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono saat tiba untuk mengikuti pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Foto: Republika/Prayogi
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono saat tiba untuk mengikuti pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (22/7/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengaku kerap jengkel melihat berbagai komentar di media sosial yang mendiskreditkan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pasalnya, tidak sedikit warganet yang menganggap salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto itu menghabiskan anggaran negara.

"Saya gemes juga tuh lihat apa, komentar di sosial media, seolah-olah kan MBG ini ngabisin anggaran negara. Terus seolah-olah ini kurang, itu kurang, ini kurang, itu kurang," kata dia saat konferensi pers di Gedung BGN, Jumat (31/7/2026).

Baca Juga

Menurut dia, program MBG yang dijalankan pemerintah hari ini tidak serta merta membuat berbagai program pembangunan berhenti. Justru, pembangunan tetap menjadi salah satu fokus pemerintahan Presiden Prabowo.

Sudaryono mengungkapkan, saat ini ada sejumlah pihak yang menuduh program MBG membuat pupuk menjadi langka. Padahal, pemerintah hari ini diklaim tetap memberikan meningkatkan volume pupuk, termasuk memberikan diskon, meski program MBG berjalan.

Tak hanya itu, ia juga mencontohkan bahwa selama ini banyak jaringan irigasi yang mengalami kerusakan. Kondisi itu disebut sudah terjadi sejak sebelum adanya program MBG.

"Terus sekarang ada MBG, sudah diambil untuk MBG, sekarang ada revitalisasi irigasi 12 T, 14 T, 14 T sampai dengan 5 tahun ini diberesin semua," kata Sudaryono.

Mantan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) itu juga menyoroti kondisi sekolah rusak yang dikaitkan dengan program MBG. Padahal, kasus sekolah rusak sudah banyak ditemukan sebelum program MBG berjalan.

"Dulu nggak ada MBG, kan sekolah itu ada yang rusak, bolong, apa semua. Itu kan nggak karena terus kemudian Pak Prabowo jadi presiden, ada MBG, terus sekolahnya mendadak jadi rusak. Kan nggak. Dulu ke mana?" ujar dia.

Apabila logika itu yang digunakan, menurut dia, berbagai sekolah rusak itu mestinya sudah diperbaiki. Dengan begitu, tidak ada lagi sekolah yang mengalami kerusakan hari ini.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi