Rabu 22 Jul 2026 17:42 WIB

Analis Militer: Iran Pegang Kartu yang Bisa Kejutkan Trump

Trump dinilai analis Arab mencoba menciptakan kekacauan di kawasan.

Seorang wanita Iran berjalan di samping papan reklame raksasa anti-AS yang menampilkan Presiden AS Donald Trump di dalam peti mati di Alun-alun Enghelab di Teheran, Iran, pada 15 Juli 2026.
Foto: EPA/ABEDIN TAHERKENAREH
Seorang wanita Iran berjalan di samping papan reklame raksasa anti-AS yang menampilkan Presiden AS Donald Trump di dalam peti mati di Alun-alun Enghelab di Teheran, Iran, pada 15 Juli 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Atheer al-Shar'a, analis politik dari Irak menilai Iran saat ini memegang kartu kemenangan atas AS dalam perang, dan Teheran bisa membuat kejuatan terhadap Washington. Dilansir Pars Today mengutip IRNA, Rabu (22/7/2026), al-Shar'a mengatakan, "Donald Trump, Presiden Amerika Serikat belakang ini menyerang Iran untuk mengimplementasikan sebuah proyek yang telah ditolak Obama dalam masa kepresidenannya."

"Donald Trump menjalankan skema Zionis yang ditolak mantan presiden, Barack Obama untuk diimplementasikan," al-Shar'a menambahkan.

Baca Juga

Menurut al-Shar'a, Trump mencoba mewujudkan tuntutan Zionis yang sering disebut sebagai proyek "Timur Tengah Baru'. Dengan menyerang Iran dan menargetkan wilayahnya, Trump mencoba menciptakan kekacauan di kawasan. "Namun Teheran memegang banyak kartu untuk dimainkan dan bisa mengejutkan Washington dan pemerintahan AS," ujar al-Shar'a.

Sementara seorang ahli dari BBC, Jeremy Bowen menilai, Donald Trump saat ini dihadapkan pada serangkaian opsi-opsi buruk saat Presiden AS itu mencoba mencari jalan keluar untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Dalam wawancara dengan Radio 4, Bowen mengatakan bahwa saat ini tidak ada hasil yang bagus untuk Trump, meski ia berulang kali mengeklaim bahwa AS telah memenangi perang.

"Dia bisa menaikkan eskalasi, yang tidak akan membawa kepada kemenangan dan bisa mengantar kepada banyak disrupsi dan masalah. Jika ada jalan kembali ke proses negosiasi, yang bisa anda katakan satu-satunya jalan yang mungkin, itu membutuhkan konsesi untuk Iran yang akan mengakibatkan kekalahan strategis bagi AS, yang disebabkan oleh kecerobohannya memutuskan untuk memulai perang," kata Bowen.

"Semua ahli militer akan mengatakan, satu-satunya jalan untuk benar-benar mengamankan dan membuka Selat Hormuz adalah dengan memaksa sebuah operasi darat besar yang akan sangat berisiko, karena akan membutuhkan ratusan ribu pasukan, dan itu tidak akan terjadi."

sumber : Antara, Anadolu, Sputnik/RIA Novosti
Berita Lainnya

Rekomendasi