Ahad 19 Jul 2026 07:18 WIB

Militer AS Bunuh Puluhan Warga Iran, Putus Akses Air 10 Ribu Warga

Iran bekukan MoU gencatan senjata dengan AS.

Seorang wanita Iran berjalan di samping papan reklame raksasa anti-AS yang menampilkan Presiden AS Donald Trump di dalam peti mati di Alun-alun Enghelab di Teheran, Iran, pada 15 Juli 2026.
Foto: EPA/ABEDIN TAHERKENAREH
Seorang wanita Iran berjalan di samping papan reklame raksasa anti-AS yang menampilkan Presiden AS Donald Trump di dalam peti mati di Alun-alun Enghelab di Teheran, Iran, pada 15 Juli 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Pemerintah Iran menyatakan sedikitnya 50 orang meninggal dan lebih dari 500 lainnya terluka akibat gelombang serangan Amerika Serikat (AS) sepanjang Juli ini. Di tengah eskalasi konflik, Teheran juga mengumumkan implementasi nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) Islamabad dengan Washington ditangguhkan karena AS dinilai telah melanggar seluruh komitmennya.

Merujuk Aljazirah, Kementerian Kesehatan Iran pada Sabtu (19/7) melaporkan jumlah korban tersebut setelah Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) melancarkan serangan untuk malam ketujuh secara berturut-turut ke sejumlah sasaran di Iran sejak 6 Juli.

Baca Juga

Serangan terbaru itu juga menghantam fasilitas desalinasi air laut sehingga sekitar 10 ribu warga kehilangan akses air bersih. Sebagai balasan, Iran meluncurkan gelombang baru drone dan rudal ke sejumlah negara Teluk yang menjadi sekutu AS.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan Washington telah melanggar seluruh komitmennya dalam kerangka MoU Islamabad yang ditandatangani kedua negara bulan lalu.

"AS telah melanggar dan menghentikan seluruh komitmennya dalam kerangka MoU Islamabad," kata Gharibabadi seperti dikutip kantor berita semi-resmi Fars.

Karena itu, lanjut dia, Iran juga menghentikan seluruh kewajibannya dalam kesepakatan tersebut dan untuk sementara memfokuskan seluruh sumber dayanya pada upaya mempertahankan negara. Gharibabadi sebelumnya terlibat dalam perundingan teknis mengenai implementasi MoU itu.

photo
Warga berjalan di dekat mural anti-AS di sebuah jalan di Teheran, Iran, pada 9 Juli 2026. AS kembali menyerang Iran setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata telah berakhir. - (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei turut menuding AS telah melanggar seluruh aspek perjanjian dalam sepekan terakhir. Menurut dia, Iran tidak pernah menginginkan perang dan hanya mempertahankan diri dari konflik yang "dipaksakan" kepadanya.

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei melalui pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah memperingatkan bahwa Teheran akan memberikan "pelajaran yang tak terlupakan" kepada Amerika Serikat jika serangan terus berlanjut.

Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref juga menuduh Washington menyerang bahkan sebelum tinta MoU mengering. Ia menilai tindakan itu bertentangan dengan kesepakatan yang memberikan tanggung jawab kepada Iran untuk mengelola keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Kedua negara saling menuduh telah melanggar isi MoU, terutama Pasal 5 yang menjamin keamanan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi