Selasa 14 Jul 2026 14:09 WIB

Selat Hormuz Makin Panas: Dua Kapal Tanker Super UEA Dibom Iran, Satu Kru Tewas

Dua kapal tanker UEA dirudal Iran saat menggunakan jalur perairan Oman.

Seorang wanita Iran memandang deretan kapal di Selat Hormuz dari kawasan Bandar Abbas, di selatan Iran pada 1 Juni 2026.
Foto: EPA/Amirhossein Khorgooei
Seorang wanita Iran memandang deretan kapal di Selat Hormuz dari kawasan Bandar Abbas, di selatan Iran pada 1 Juni 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, ABU DHABI -- Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) pada Selasa (14/6/2026) mengatakan bahwa dua kapal tanker berbendera UEA, Mombasa dan Al Bahiyah dihantam oleh rudal penjelajah Iran saat melintas di jalur selatan Selat Hormuz atau perairan Oman. Satu kru kapal berkewarganegaraan India dilaporkan Asharq Al-Awsat, tewas dan delapan lainnya terluka.

UEA mengutuk serangan Iran itu sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional yang mengancam keamanan dan stabilitas kawasan. UEA menegaskan mereka mempertahankan hak mereka untuk merespons eskalasi dan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi wilayah, warga negara, dan penduduk, menjaga kedaulatan, keamanan dan stabilitas, dan mempertahankan kepentingan nasionalnya.

Baca Juga

Kementerian Pertahanan UEA mengatakan pihaknya masih dalam status siaga penuh dan siap untuk menghadapi semua ancaman, menambahkan bahwa mereka telah mengambil langkah-langkah terukur untuk membalas semua upaya yang melemahkan keamanan dan stabilitas negara. Pemerintah meminta publik untuk bergantung pada sumber informasi resmi dan menghindari rumor atau laporan yang tak terverifikasi.

Klaim Iran

Pada Selasa, pihak Iran mengatakan, dua kapal tanker super dilumpuhkan setelah menggunakan jalur pelayaran yang disebut tidak sah di Selat Hormuz atas dorongan militer Amerika Serikat. Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam pernyataannya mengatakan pasukan AS mendorong sejumlah kapal melintasi jalur yang mereka sebut ilegal di perairan strategis tersebut.

Menurut IRGC, kedua kapal tanker itu mematikan sistem navigasi dan mengabaikan peringatan berulang dari Pusat Pengendalian Keamanan Maritim Selat Hormuz. Tindakan tersebut, menurut IRGC, membahayakan lalu lintas pelayaran lain di kawasan.

IRGC menyatakan kedua kapal kemudian mencoba melintasi jalur yang telah dipasangi ranjau sebelum akhirnya terkena hantaman dan tidak dapat beroperasi. Namun IRGC tidak menjelaskan apa yang menghantam kapal tersebut maupun secara langsung mengklaim bertanggung jawab atas insiden itu.

IRGC juga memperingatkan bahwa kerja sama dengan Amerika Serikat dan penggunaan jalur yang telah dipasangi ranjau dapat memicu kerusakan lebih besar. Menurut mereka, tindakan itu juga akan menunda pembukaan kembali Selat Hormuz dan memperdalam krisis energi global.

sumber : Antara, Anadolu, Sputnik
Berita Lainnya

Rekomendasi