REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU — Usulan perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Tatar Sunda memantik polemik. Penolakan datang dari berbagai kalangan, terutama dari wilayah Indramayu – Cirebon.
Penolakan itu salah satunya disampaikan oleh Founder Yayasan Indramayu Historia Foundation, Nang Sadewo. Ia menilai, usulan tersebut tidak merefleksikan realitas historis dan kondisi modern Jawa Barat saat ini.
Ia pun secara tegas menyatakan ketidaksetujuannya terhadap wacana yang digulirkan oleh sekelompok orang tersebut. Menurutnya, klaim sepihak yang menyebut Jawa Barat didominasi oleh 75 persen Suku Sunda mengabaikan fakta dinamika penduduk di 27 kabupaten/kota yang ada.
"Saya tegas menolak, apalagi itu hanya usulan sekelompok primordial," ujar pria yang akrab disapa Dewo itu, Selasa (7/7/2026).
Dewo menjelaskan, nilai-nilai sejarah seharusnya tidak terjebak pada ego kelompok atau "ke-aku-an". Sebaliknya, sejarah harus mampu berbaur dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, berdasarkan statistik pembangunan saat ini, Jawa Barat telah bertransformasi menjadi rumah yang heterogen bagi berbagai etnis.
Lihat postingan ini di Instagram




