Selasa 07 Jul 2026 21:40 WIB

Isu Nama Jabar Diganti,Nang Sadewo: Jika Mereka Bilang Tatar Sunda, Saya Bilang Latar Reang

Usulan Tatar Sunda dinilai tak merefleksikan realitas historis kondisi modern Jabar.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Teguh Firmansyah
Drama musikal Pajajaran Gugat dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda, di Gedung Sate, Kota Bandung, Ahad (17/5/2026). Acara kolosal tersebut menampilkan sejumlah artis ternama dengan sejumlah pesan kehidupan dari masa kejayaan hingga runtuhnya kerajaan Pajajaran, di maksudkan dapat menyerap hal-hal baik di masa lalu untuk kehidupan masa depan.
Foto: Edi Yusuf
Drama musikal Pajajaran Gugat dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda, di Gedung Sate, Kota Bandung, Ahad (17/5/2026). Acara kolosal tersebut menampilkan sejumlah artis ternama dengan sejumlah pesan kehidupan dari masa kejayaan hingga runtuhnya kerajaan Pajajaran, di maksudkan dapat menyerap hal-hal baik di masa lalu untuk kehidupan masa depan.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU — Usulan perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Tatar Sunda memantik polemik. Penolakan datang dari berbagai kalangan, terutama dari wilayah Indramayu – Cirebon.

Penolakan itu salah satunya disampaikan oleh Founder Yayasan Indramayu Historia Foundation, Nang Sadewo. Ia menilai, usulan tersebut tidak merefleksikan realitas historis dan kondisi modern Jawa Barat saat ini.

Baca Juga

Ia pun secara tegas menyatakan ketidaksetujuannya terhadap wacana yang digulirkan oleh sekelompok orang tersebut. Menurutnya, klaim sepihak yang menyebut Jawa Barat didominasi oleh 75 persen Suku Sunda mengabaikan fakta dinamika penduduk di 27 kabupaten/kota yang ada.

"Saya tegas menolak, apalagi itu hanya usulan sekelompok primordial," ujar pria yang akrab disapa Dewo itu, Selasa (7/7/2026).

Dewo menjelaskan, nilai-nilai sejarah seharusnya tidak terjebak pada ego kelompok atau "ke-aku-an". Sebaliknya, sejarah harus mampu berbaur dengan perkembangan zaman.

Menurutnya, berdasarkan statistik pembangunan saat ini, Jawa Barat telah bertransformasi menjadi rumah yang heterogen bagi berbagai etnis.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi