Rabu 08 Jul 2026 06:01 WIB

Gripen Swedia Menantang F-35 Amerika, Mengapa Kanada Mulai Berpaling?

Ada strategi baru Kanada lepas dari bayang-bayang Amerika.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Kolase Pesawat Tempur SAAB Gripen produksi Swedia dan F-35 Amerika
Foto: Tangkapan layar
Kolase Pesawat Tempur SAAB Gripen produksi Swedia dan F-35 Amerika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perbandingan antara F-35A Lightning II buatan Lockheed Martin Amerika Serikat dan Gripen E buatan Saab Swedia kembali mengemuka setelah Kanada masih meninjau rencana pembelian 88 jet tempur F-35.

Pemerintahan Perdana Menteri Mark Carney membuka opsi membeli sebagian jet dari negara lain, termasuk Gripen, di tengah dorongan Ottawa mengurangi ketergantungan pada industri pertahanan Amerika Serikat.

Baca Juga

Reuters melaporkan, paket pengadaan F-35 Kanada yang diumumkan pada 2023 bernilai 19 miliar dolar Kanada atau sekitar Rp240 triliun. Nilai itu juga disebut setara 13,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp250 triliun. Meski demikian, Kanada sudah memiliki komitmen legal untuk pendanaan 16 unit F-35 pertama.

Isu ini tidak berdiri sendiri. Kanada juga telah memilih Saab sebagai pemasok pilihan untuk program pesawat peringatan dini GlobalEye, meski Saab menegaskan belum ada kontrak atau order final. Di sektor bawah laut, Kanada memilih TKMS Jerman untuk masuk pembicaraan pengadaan hingga 12 kapal selam baru. Pola ini memperlihatkan arah baru Ottawa: tetap berada dalam kerangka NATO, tetapi memperluas sumber alutsista di luar Amerika Serikat.

Bagi pendukung F-35, keunggulan utama jet Amerika ini berada pada statusnya sebagai pesawat tempur generasi kelima. F-35 dirancang dengan kemampuan siluman, sensor fusion, jaringan data, dan interoperabilitas tinggi dengan sesama pengguna F-35 di NATO. Lockheed Martin menyebut F-35 telah mencatat lebih dari satu juta jam terbang, dioperasikan 12 negara, dan lebih dari 1.230 unit telah berdinas di armada global.

Argumen itu diperkuat pengalaman tempur F-35. Angkatan Udara Israel menyatakan negaranya menjadi pengguna pertama F-35 dalam operasi tempur pada 2018. Jet itu digunakan dalam serangan terhadap target Iran di Suriah. Sementara itu, Angkatan Udara AS menggunakan F-35A untuk serangan di Irak pada 2019, sedangkan Korps Marinir AS memakai F-35B dalam serangan di Afghanistan pada 2018.

Dari sisi spesifikasi resmi Angkatan Udara AS, F-35A memiliki kecepatan maksimum Mach 1,6, payload 18 ribu pon atau sekitar 8.160 kilogram, dan jangkauan lebih dari 1.350 mil dengan bahan bakar internal. Harga rata-rata F-35A yang dikirim pada 2023-2025 disebut Reuters sekitar 82,5 juta dolar AS per unit, atau sekitar Rp1,48 triliun. Namun, angka itu merupakan harga pesawat, bukan total paket pengadaan yang mencakup pelatihan, senjata, infrastruktur, perangkat lunak, dan perawatan jangka panjang.

Di kubu lain, Gripen E menawarkan keunggulan berbeda. Saab menekankan Gripen E sebagai jet tempur yang mudah dirawat, dapat beroperasi dari jalan raya atau landasan darurat, dan hanya membutuhkan sekitar 15-25 menit untuk pengisian ulang serta pemasangan senjata dalam konfigurasi udara-ke-udara. Karakter ini lahir dari doktrin pertahanan Swedia yang menuntut pesawat tetap bisa bertahan saat pangkalan utama diserang.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi