Selasa 07 Jul 2026 16:29 WIB

Ketua MPR Jadi Utusan ke Iran, Politikus PDIP Bambang Pacul Ungkap Ada yang tak Pas

Hubungan Presiden dan MPR dinilai tak mengenal mekanisme penugasan.

Rep: Noor Alfian Choir/ Red: Teguh Firmansyah
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul.
Foto: Dok DPR
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul mengkritisi penggunaan istilah Presiden Prabowo Subianto mengutus Ketua MPR Ahmad Muzani untuk menghadiri pemakaman mantan pemimpin agung Iran Ali Khamenei.

Menurutnya, hubungan antara Presiden dan pimpinan MPR sebagai sesama lembaga tinggi negara tidak mengenal mekanisme penugasan, melainkan bersifat konsultatif.

Baca Juga

Pernyataan itu disampaikan Bambang saat dimintai tanggapan mengenai kabar Presiden mengutus Ketua MPR Ahmad Muzani untuk menghadiri agenda di Iran. Ia mengaku belum memperoleh informasi mengenai hal tersebut.

“Saya belum terinfo. Tapi, kalau Pak Presiden mengutus Ketua MPR, saya kira mekanismenya tidak seperti itu,” kata Bambang kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa.

Menurut politikus PDI Perjuangan itu, Presiden dan MPR sama-sama merupakan lembaga tinggi negara sehingga hubungan keduanya berjalan secara konsultatif. “Ya, karena mekanisme hubungan antara MPR dan Presiden itu kan sama-sama sebagai lembaga tinggi negara,” ujarnya.

Saat ditanya apakah Presiden tidak dapat mengutus Ketua MPR? Bambang menjelaskan perlu dibedakan antara kapasitas seseorang sebagai kader partai dengan jabatannya sebagai pimpinan lembaga negara.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi