REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sejumlah peristiwa terbunuhnya warga sipil di kawasan pegunungan Papua kian marak belakangan. Benarkah postur keamanan TNI yang membengkak di wilayah itu jadi sebabnya?.
Catatan Komnas HAM, memang ada kecenderungan peningkatan peristiwa kekerasan dan konflik bersenjata di pegunungan Papua belakangan. Pada 2022, misalnya terjadi sebanyak 46 peristiwa kekerasan dan konflik bersenjata.
Sementara pada 2023 terjadi 81 kejadian dan terus meningkat menjadi 96 peristiwa pada 2024 dan 97 kejadian pada 2025. Kemudian pada tahun ini, hingga April telah terjadi 26 peristiwa kekerasan.
Untuk korban jiwa, sepanjang 2025 sebanyak 71 warga sipil meninggal ditembak. Kemudian 38 korban jiwa dari pihak kelompok separatis dan 10 aparat keamanan gugur. Selain korban jiwa, terdapat 43 korban luka.
Sedangkan warga sipil dari kalangan orang asli Papua (OAP) adalah korban terbanyak sepanjang 2026 hingga April dengan 35 meninggal, 20 luka, dan tujuh disandera. Ini dari total 46 korban jiwa, 32 terluka dan tujuh disandera.
Peningkatan kejadian kekerasan dan kematian warga sipil ini seiring dengan penambahan pasukan TNI di Tanah Papua. Berdasarkan perhitungan LSM Imparsial pada 2023, jumlah prajurit TNI di Papua diperkirakan mencapai 14 ribu personel baik organik maupun nonorganik. Jumlah itu terdiri dari tiga matra. Hampir seluruh prajurit itu adalah satuan dengan kualifikasi tempur.
Jumlah itu meningkat seturut pembentukan lima batalyon baru di Papua pada Oktober 2024 lalu. Mereka akan bertugas menjalankan program ketahanan pangan terkait proyek food estate di Tanah Papua.
Di antara lima batalyon baru itu ada Yonif 801 yang diperkuat 691 prajurit, 450 orang di antaranya didatangkan dari Kodam III/Siliwangi dan 150 orang dari Kodam I/Bukit Barisan. Kemudian Yonif 802 diperkuat 691 prajurit yang 350 di antaranya didatangkan dari Kodam Jaya, 150 orang dari Kodam II/Sriwijaya, dan 100 orang dari Kodam Iskandar Muda.
Selanjutnya Yonif 803 diperkuat oleh 691 prajurit. Sebanyak 230 berasal dari Kodam V/Brawijaya, 25 prajurit dari Kodam VI/Mulawarman, 225 dari Kodam XIV/Hasanuddin, 100 prajurit dari Kodam XVII/Cenderawasih, dan 20 orang dari Kodam XVIII/Kasuari.
Yonif 804 diperkuat oleh 691 prajurit. Sebanyak 400 di antaranya didatangkan dari Kodam IV/Diponegoro, 43 prajurit dari Kodam XII/Tanjungpura, 157 prajurit dari Kodam XIII/Merdeka. Yonif 805 diperkuat oleh 691 prajurit yang 306 di antaranya dari Kodam IX/Udayana dan 294 dari Kodam XVI/Pattimura.




