REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU – Wacana perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Tatar Sunda yang tengah bergulir di DPRD Provinsi Jawa Barat, terus menuai gelombang penolakan. Salah satunya disampaikan oleh Forum Pondok Pesantren (FPP) Kabupaten Indramayu.
Ketua FPP Kabupaten Indramayu, KH Azun Mauzun, menegaskan, bahwa identitas 'Jawa Barat' sudah mengakar kuat dalam sejarah bangsa. "Kami dari Forum Pondok Pesantren Kabupaten Indramayu menolak keras rencana perubahan nama tersebut," ujar Azun, Senin (6/7/2026).
Azun menilai, nomenklatur Jawa Barat bukan sekadar penanda administratif wilayah di Pulau Jawa. Namun, nama tersebut juga mengandung nilai historis, kekayaan budaya, rekam jejak perjuangan, serta semangat kebersamaan yang telah merajut kehidupan masyarakatnya.
Azun pun mengingatkan realitas demografis Jawa Barat yang sangat plural, tidak hanya dihuni oleh suku Sunda.
"Perubahan nama ini rawan memicu keretakan antara masyarakat bersuku Sunda dan Jawa. Harus diingat, Jawa Barat itu heterogen, ada masyarakat Jawa juga di dalamnya. Jadi, sama sekali tidak ada urgensinya mengganti nama Jawa Barat menjadi Tatar Sunda," tuturnya.
Lihat postingan ini di Instagram




