REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Piala Presiden 2026 menjadi harapan baru bagi para pemain muda Indonesia untuk mendapatkan menit bermain sekaligus menunjukkan kualitas di hadapan pelatih klub maupun tim nasional. Turnamen pramusim yang berlangsung pada 25 Juli hingga 6 Agustus di Bandung dan Surabaya itu dinilai menjadi panggung penting, terutama setelah regulasi wajib memainkan pemain U-23 di Liga 1 dihapuskan.
Kiper Persebaya Surabaya Ernando Ari Sutaryadi menilai kehadiran kembali Piala Presiden sangat berarti bagi perkembangan pemain muda. Menurut dia, berkurangnya kesempatan tampil di Liga 1 membuat ajang seperti Piala Presiden semakin dibutuhkan.
"Kami butuh ajang lain, apalagi regulasi U-23 sudah dihapuskan. Kami membutuhkan menit bermain agar tetap diminati pelatih timnas. Kalau hanya mengandalkan Liga 1, menit bermain pemain muda sangat minim. Karena itu saya sangat senang Piala Presiden kembali digelar. Ini menjadi salah satu jalan mendapatkan kesempatan bermain sekaligus membuka peluang dipanggil Timnas Indonesia," ujar Ernando.
Penjaga gawang timnas Indonesia itu juga menyambut positif kehadiran klub-klub dari Asia Tenggara. Menurut Ernando, persaingan dengan tim-tim luar negeri akan menjadi tolok ukur kemampuan sekaligus membantu meningkatkan kualitas kompetisi domestik.
Ia berharap klub-klub Indonesia mampu bersaing dan membawa nama baik sepak bola nasional sehingga ke depan semakin banyak kesempatan tampil di level internasional.
Ernando menambahkan atmosfer persaingan di Piala Presiden dipastikan berlangsung ketat karena setiap pemain ingin mengamankan tempat di skuad utama menjelang bergulirnya Liga 1.
"Semua pemain ingin memberikan yang terbaik di setiap ajang. Kalau tidak maksimal di pramusim, tentu kesempatan mendapatkan menit bermain di Liga 1 juga akan berkurang. Apalagi Piala Presiden menawarkan hadiah yang besar sehingga motivasi seluruh pemain pasti semakin tinggi," katanya.
Meski demikian, Ernando memilih tidak memasang target muluk. Ia menegaskan hanya ingin memberikan penampilan terbaik dan menyerahkan hasil akhirnya kepada pelatih serta manajemen tim.
Ia juga berharap kembalinya suporter tandang dapat menghadirkan atmosfer pertandingan yang lebih semarak, namun tetap mengedepankan sportivitas.
"Adrenalin pasti lebih tinggi jika ada suporter tandang. Tetapi suporter harus bersatu dan damai. Jangan ada lagi permusuhan antarsuporter karena itu akan membuat sepak bola Indonesia berkembang semakin baik," ujarnya.
Senada dengan Ernando, pemain muda Persib Bandung Nazriel Alvaro menilai Piala Presiden menjadi kesempatan emas bagi pemain muda untuk memperoleh menit bermain yang masih terbatas di Liga 1.
"Piala Presiden sangat bagus untuk menambah menit bermain pemain muda. Di Liga 1 kesempatan bermain masih kurang sehingga turnamen ini menjadi ajang pembuktian kemampuan kami," kata Nazriel.
Nazriel juga menyambut antusias kembalinya duel-duel klasik antarklub besar Indonesia. Menurut dia, pertandingan seperti Persib melawan PSMS akan menghidupkan kembali atmosfer kompetisi yang pernah menjadi bagian dari sejarah sepak bola nasional.
Sebagai juara Liga 1, lanjut Nazriel, Persib memiliki motivasi untuk mempertahankan performa terbaik. Kehadiran suporter tandang justru dianggap sebagai tambahan semangat bagi para pemain.
Sementara itu, gelandang muda Persija Jakarta Zhahaby Gholy menilai Piala Presiden 2026 merupakan ajang persiapan yang ideal sebelum memasuki kompetisi resmi. Kehadiran sejumlah klub besar Indonesia serta wakil Asia Tenggara diyakini membuat kualitas turnamen semakin kompetitif.
"Pesertanya klub-klub legendaris, jadi sangat bagus untuk persiapan. Saya ingin memberikan yang terbaik bagi Persija dan Jakmania," ujar Gholy.
Piala Presiden 2026 akan diikuti delapan tim yang terbagi ke dalam dua grup. Grup A yang dimainkan di Bandung dihuni Persib Bandung, Arema FC, DPMM FC (Brunei Darussalam), dan Tampines Rovers (Singapura). Sementara Grup B yang berlangsung di Surabaya diisi Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, PSMS Medan, dan Port FC (Thailand).




