REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi Partai Golkar Sandi Fitrian Noor mengingatkan agar pelibatan Taruna Akademi Militer (Akmil) dalam pembinaan siswa Sekolah Rakyat tetap menempatkan pendidikan karakter dalam koridor yang humanis. Menurutnya, nilai-nilai positif dari pendidikan militer dapat diadopsi tanpa menghadirkan kesan militerisasi di lingkungan sekolah.
Sandi mengatakan, kebijakan Kementerian Sosial (Kemensos) yang akan melibatkan sekitar 1.000 taruna Akmil merupakan ikhtiar membangun generasi muda yang disiplin, berintegritas, dan memiliki semangat kebangsaan. Namun, ia menilai implementasinya perlu dirancang secara tepat agar tujuan tersebut benar-benar tercapai.
"Jangan sampai publik menangkap kesan bahwa sekolah menjadi ruang militerisasi. Yang harus ditransformasikan adalah nilai-nilai positifnya, bukan kultur militernya," kata Sandi dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026).
Ia menjelaskan, nilai-nilai seperti kedisiplinan, kepemimpinan, nasionalisme, dan cinta tanah air memang penting ditanamkan kepada peserta didik, terutama di Sekolah Rakyat yang disiapkan pemerintah bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan.
"Saya melihat niat pemerintah sangat baik. Kita semua ingin melahirkan generasi muda yang disiplin, berintegritas, memiliki semangat kebangsaan, serta bertanggung jawab. Namun, pendidikan karakter harus tetap berada dalam koridor pedagogi yang humanis," ujarnya.
Sebagai mitra kerja Kemensos, Komisi VIII DPR RI, kata Sandi, berkepentingan memastikan setiap kebijakan di Sekolah Rakyat berpijak pada kepentingan terbaik bagi anak. Menurut dia, para peserta didik membutuhkan lingkungan belajar yang aman, inklusif, suportif, sekaligus mampu menumbuhkan kembali rasa percaya diri mereka.
Sandi juga mengingatkan bahwa berbagai penelitian, termasuk hasil Program for International Student Assessment (PISA) dan kajian Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), menunjukkan pembentukan karakter lebih efektif dilakukan melalui keteladanan, pembiasaan, penguatan budaya sekolah, serta hubungan positif antara pendidik dan peserta didik.
"Disiplin memang penting, tetapi disiplin bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan. Disiplin harus lahir dari kesadaran, tanggung jawab, dan kemampuan mengendalikan diri. Nilai-nilai inilah yang harus menjadi roh pembinaan di Sekolah Rakyat," katanya.
Menurut Sandi, taruna Akmil memiliki banyak nilai yang layak menjadi teladan, seperti integritas, kepemimpinan, kerja sama tim, semangat pengabdian kepada bangsa, ketangguhan mental, dan kedisiplinan. Karena itu, ia berharap kehadiran para taruna difokuskan sebagai pendamping karakter dan teladan kepemimpinan bagi para siswa.
"Peran mereka harus ditempatkan sebagai mentor karakter dan teladan kepemimpinan, bukan sebagai instruktur yang menggunakan pola pembinaan khas pendidikan militer," ujarnya.




