Selasa 30 Jun 2026 15:38 WIB

Setara: Pelibatan Taruna Akmil di Sekolah Rakyat Berbahaya

Pembentukan karakter tak hanya bisa dilakukan militer.

Rep: Bambang Noroyono,Rizky Suryarandika/ Red: Fitriyan Zamzami
Sejumlah siswa menjalani tes kesehatan di sekolah Rakyat Sentra Budi Perkasa Palembang, Sumatera Selatan, Senin (14/7/2025).
Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Sejumlah siswa menjalani tes kesehatan di sekolah Rakyat Sentra Budi Perkasa Palembang, Sumatera Selatan, Senin (14/7/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Penugasan seribu taruna Akademi Militer (Akmil) untuk melatih siswa-siswa Sekolah Rakyat (SR) dinilai tak tepat. Setara Institute bahkan menilai pelibatan taruna militer di sektor pendidikan sipil itu bakal menjadi langkah pendidikan yang berbahaya.

“Ini adalah preseden yang sangat berbahaya. Seakan-akan pembentukan karakter warga negara melalui pendidikan hanya bisa dilakukan oleh militer,” kata Ketua Dewan Nasional Setara Institute Hendardi melalui siaran pers, Selasa (30/6/2026). Ia meminta rezim pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tak mengambil kebijakan yang mengarah pada penguatan peran militer di sektor-sektor sipil.

Hendardi mengatakan, penugasan taruna Akmil dalam melatih peserta SR bukan cuma persoalan teknis penyelenggaraan pendidikan. Kebijakan tersebut kata Hendardi merupakan cerminan dari cara negara saat ini yang semakin membuat samar batas-batas antara ranah sipil, dan ranah militer.

Alih-alih memperkuat istitusi sipil dalam menjalankan fungsi pendidikan. Pemerintahan Prabowo saat ini justeru mencoba mengembalikan militer sebagai instrumen untuk sektor pendidikan sipil.

Hendardi mengatakan, SR sebetulnya program positif pemerintah di sektor pendidikan yang ditujukan bagi masyarakat yang mengalami kerentanan sosial dan ekonomi. Sebab itu, kata Hendardi yang paling dibutuhkan untuk realisasi program SR tersebut adalah di bidang keilmuan umum.

“Pendekatan yang dibutuhkan adalah pendekatan pedagogis (keilmuan), humanistik, dan partisipatif yang bertumpu pada ilmu pendidikan, psikologi perkembangan, voluntarisme sosial, dan pemberdayaan masyarakat,” kata Hendardi.

photo
Seorang guru membimbing siswa yang mengerjakan ujian tengah semester di Sekolah Rakyat Menengah Atas 13 Bekasi, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (14/4/2026). - (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)

Justeru kata Hendardi, dalam realisasi SR tersebut, sama sekali tak ada kebutuhan yang objektif yang membenarkan keterlibatan taruna-taruna militer. Meskipun, kata Hendardi, maksud pengerahan taruna-taruna Akmil itu dikatakan hanya untuk menekankan kedisiplinan bagi para siswa atau calon didik. 

Namun menurut Hedardi, bukan berarti penguatan kedisiplinan sumber daya manusia hanya bisa terbentuk melalui peran yang militeristik. Pun jika dikatakan pelibatan taruna-taruna Akmil tersebut bertujuan untuk penanaman nasionalisme, serta patriotisme. Namun, hal tersebut juga tak melulu bersumber dari cara-cara militerisme. 

“Disiplin memang merupakan nilai penting dalam pendidikan. Tetapi disiplin tidak identik dengan militerisme. Nasionalisme dan patriotisme warga negara memang penting. Tetapi keduanya itu bukan hanya milik militer. Negara seharusnya tidak mengaburka cara pandang tersebut,” ujar Hendardi.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi