Selasa 30 Jun 2026 11:34 WIB

Tamparan Buat Gattuso, Dua Tim Kuat Eropa Langsung Gugur di Piala Dunia 2026

Gattuso sempat menyatakan jatah tim Afrika terlalu banyak di Piala Dunia.

Rep: Fitriyanto/ Red: Fitriyan Zamzami
Pemain timnas Brasil berebut bola dengan pemain timnas Maroko Noussair Mazraoui dalam pertandingan babak penyisihan Grup C Piala Dunia FIFA 2026 di East Rutherford, New Jersey, AS, Sabtu (13/6/2026). Brasil bermain imbang 1-1 dengan Maroko.
Foto: EPA/OLGA FEDOROVA
Pemain timnas Brasil berebut bola dengan pemain timnas Maroko Noussair Mazraoui dalam pertandingan babak penyisihan Grup C Piala Dunia FIFA 2026 di East Rutherford, New Jersey, AS, Sabtu (13/6/2026). Brasil bermain imbang 1-1 dengan Maroko.

REPUBLIKA.CO.ID, BOSTON – Dua tim Eropa langganan babak akhir Piala Dunia, Jerman dan Belanda, gagal melaju ke babak 16 besar. Kekalahan keduanya oleh tim dari Amerika Selatan dan Afrika Utara menggoyang supremasi Benua Eropa di kancah sepak bola dunia.

Kejutan besar pertama, Die Mannschaft tersingkir setelah kalah dari Paraguay melalui drama adu tendangan penalti dengan skor 3-4, Selasa (30/6/2026) pagi WIB di Stadion Boston Foxborough, Massachusetts, Amerika Serikat.

Baca Juga

Kedua tim bermain imbang 1-1 sepanjang 90 menit pertandingan. Skor tersebut tidak berubah hingga babak tambahan waktu berakhir, sehingga laga harus ditentukan melalui adu penalti yang dimenangkan Paraguay. Dalam pertandingan tersebut, Jerman jauh lebih banyak menguasai bola, namun tak kunjung menembus gawang Paraguay. 

Drama adu penalti juga mewarnai pertandingan antara Maroko melawan Belanda di Stadion Monterrey Guadalupe, Leon Baru, Meksiko. Belanda yang berstatus juara Grup F takluk dari Maroko dengan skor 2-3 dalam adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 1-1 hingga 120 menit.

Belanda sempat tampil menekan sejak awal pertandingan. Namun, setelah mampu bertahan dari tekanan selama 15 menit pertama, Maroko mulai menemukan ritme permainan dan balik memberikan ancaman serta mendominasi pertandingan.

photo
Para pemain Maroko merayakan gol yang dicetak oleh Issa Diop dalam pertandingan babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026 antara Belanda dan Maroko di Monterrey, Meksiko, 29 Juni 2026. - (EPA/MIGUEL SIERRA)

Jarak antara tim Eropa dan Afrika sama sekali tak terlihat dalam pertandingan itu. Sebaliknya, Belanda yang dipaksa Maroko bermain bertahan seperti tim semenjana. Maroko melesatkan 12 tendangan ke gawang dengan enam di antaranya mengenai target. Ini jauh lebih banyak dari kans Belanda dengan 7 tendangan ke gawang dan hanya 3 mengenai target.

Jika sepakan Achraf Hakimi tak mengenai mistar gawang dan aksi Soufiane Rahimi tak ditepis kiper Belanda Bart Verbruggen pada menit akhir, Belanda sedianya bisa menelan kekecewaan jauh lebih cepat.

Afrika belakangan muncul sebagai pihak yang paling diuntungkan dari format Piala Dunia FIFA 2026 yang telah diperluas, dengan pencapaian luar biasa di mana sembilan dari 10 wakilnya berhasil melaju ke fase gugur. Diantaranya Afrika Selatan (telah kalah dari Kanada), Maroko, Pantai Gading, Republik Demokratik Kongo, Senegal, Aljazair, Mesir, Ghana, dan Tanjung Verde.

Sebelum turnamen dimulai, sempat muncul pertanyaan di berbagai kalangan mengenai apakah Afrika layak mendapatkan jatah sebanyak 10 tempat dalam kompetisi yang kini melibatkan 48 tim tersebut.

photo
Kiper Tanjung Verde Vozinha (kiri) beraksi melawan Mikel Oyarzabal dari Spanyol dalam pertandingan Piala Dunia FIFA 2026 di Atlanta, AS, Senin (15/6/2026). Vozinha jadi pahlawan Tanjung Verde yang berhasil menahan imbang Spanyol 0-0. - (EPA/RONALD WITTEK)

Salah satu sosok yang mempertanyakan alokasi tersebut adalah Gennaro Gattuso. Selepas Italia tersingkir dari kualifikasi Piala Dunia, ia berpendapat bahwa Afrika mendapatkan terlalu banyak slot dibandingkan dengan Eropa dan Amerika Selatan.

“Pada tahun 1990 dan 1994, hanya ada dua tim Afrika [tiga tim lolos pada 1994], kini ada sembilan. Ini bukan sebuah kontroversi, namun ada tantangan yang dihadapi, dan kami sangat memahaminya,” ujar mantan gelandang AC Milan yang kini berprofesi sebagai pelatih itu.

Ia kemudian mempertanyakan sistem kualifikasi FIFA di tengah tren peningkatan prestasi sepak bola Afrika di kancah dunia. "Di masa saya, tim peringkat kedua terbaik langsung lolos ke Piala Dunia; sekarang aturannya sudah berubah," ujar Gattuso. "Jika ingin mengubah aturan, Anda harus menyampaikannya kepada pihak penyelenggara turnamen ini."

Berita Lainnya

Rekomendasi