Ahad 28 Jun 2026 12:39 WIB

Turki Naik Kelas, Petinggi NATO Puji Drone Bayraktar: Acuan Sistem Senjata Masa Depan

Pernyataan itu jadi pengakuan terhadap perkembangan industri pertahanan Turki.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Bayraktar TB2 dengan daya tahan jarak jauh sedang dipamerkan di International Defense Industry Salon (MSPO) edisi ke-30 di Kielce, Polandia, 05 September 2022. International Defense Industry Salon adalah presentasi lengkap peralatan militer, pertemuan bisnis, dan kontrak menyimpulkan antara produsen dari berbagai benua dan badan-badan sektor pertahanan. MSPO diadakan dari 6 hingga 9 September 2022.
Foto: EPA-EFE/Wojtek Jargilo POLAND OUT
Bayraktar TB2 dengan daya tahan jarak jauh sedang dipamerkan di International Defense Industry Salon (MSPO) edisi ke-30 di Kielce, Polandia, 05 September 2022. International Defense Industry Salon adalah presentasi lengkap peralatan militer, pertemuan bisnis, dan kontrak menyimpulkan antara produsen dari berbagai benua dan badan-badan sektor pertahanan. MSPO diadakan dari 6 hingga 9 September 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Drone tempur Bayraktar buatan Turki kembali mendapat pengakuan dari pejabat tinggi NATO. Wakil Komandan Tertinggi Sekutu NATO Bidang Transformasi, Marsekal Udara John Stringer, menyebut Bayraktar sebagai contoh keberhasilan industri pertahanan Eropa dalam menghadirkan teknologi militer yang lebih terbuka, fleksibel, dan mampu mengubah cara aliansi mengembangkan sistem persenjataannya.

Dalam wawancara dengan Anadolu Agency (AA) menjelang KTT NATO di Ankara, Stringer mengatakan masa depan pertahanan tidak lagi bergantung pada sistem perangkat lunak militer yang tertutup, melainkan pada arsitektur terbuka yang memungkinkan berbagai teknologi baru diintegrasikan lebih cepat.

Baca Juga

Ia menjadikan Bayraktar sebagai contoh keberhasilan pendekatan tersebut.

"Bayraktar adalah contoh bagus dari perusahaan-perusahaan Eropa yang hampir memberontak, yang banyak di antaranya bahkan belum ada lima tahun lalu, yang sedang menetapkan kembali sejumlah prinsip yang telah lama mapan," kata Stringer, sebagaimana diberitakan Daily Sabah pada Ahad (28/6/2026).

Pernyataan itu menjadi pengakuan penting terhadap perkembangan industri pertahanan Turki yang dalam beberapa tahun terakhir berhasil menempatkan Bayraktar sebagai salah satu drone tempur paling dikenal di berbagai kawasan konflik. Drone ini banyak digunakan karena menggabungkan biaya operasional yang relatif rendah, kemampuan terbang dalam waktu lama (endurance), serta kemampuan membawa amunisi berpemandu presisi.

Menurut Stringer, pengalaman Bayraktar menunjukkan bahwa NATO perlu mempercepat transformasi menuju sistem pertahanan yang lebih terbuka. Dengan pendekatan tersebut, teknologi dari berbagai negara anggota dapat diintegrasikan lebih cepat tanpa bergantung pada perangkat lunak eksklusif yang dikendalikan kontraktor tertentu.

"Tidak peduli jalur mana pun yang akhirnya dipilih, hal terpenting adalah arsitektur yang kita gunakan benar-benar terbuka," ujar Stringer.

Ia juga mendorong negara-negara anggota NATO untuk membangun keberlanjutan industri teknologi pertahanan masing-masing agar mampu merespons perubahan karakter peperangan modern.

Turki Makin Diperhitungkan

Selain memuji Bayraktar, Stringer menegaskan posisi strategis Turki di dalam NATO. Menurut dia, Ankara memiliki peran penting bukan hanya karena letak geografisnya yang menghubungkan Eropa, Timur Tengah, dan Laut Hitam, tetapi juga karena kontribusi militernya terhadap keamanan kolektif aliansi.

"Turki sangat penting bagi aliansi dan selalu demikian sejak bergabung," kata Stringer.

Ia menambahkan bahwa setiap hari personel militer Turki terus mendukung keamanan seluruh negara anggota NATO melalui berbagai operasi dan misi aliansi.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi