REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lulus dari bangku SMA menjadi salah satu fase penting dalam kehidupan generasi muda. Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan industri, memilih perguruan tinggi kini bukan lagi sekadar mencari tempat untuk mendapatkan gelar sarjana.
Lebih dari itu, calon mahasiswa perlu memastikan kampus yang dipilih mampu membekali mereka dengan kompetensi yang relevan dengan dunia kerja. Fenomena kesenjangan lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan industri masih menjadi tantangan di Indonesia.
Banyak perusahaan kini tidak hanya melihat nilai akademik atau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), juga mempertimbangkan pengalaman kerja, kemampuan digital, sertifikasi kompetensi, kemampuan komunikasi, serta keterampilan beradaptasi terhadap perubahan teknologi.
Kondisi ini membuat banyak lulusan baru menghadapi persaingan yang kian ketat ketika memasuki dunia kerja. Tak sedikit yang kesulitan mendapatkan pekerjaan karena minim pengalaman profesional dan kurang memahami kebutuhan industry.
Menjawab tantangan tersebut, Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis, terus menghadirkan sistem pendidikan yang dirancang untuk menjembatani kebutuhan akademik dan dunia industri.
Melalui berbagai program studi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, UNM berupaya mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap berkarier di era digital.
Kepala Kampus UNM Kampus Rawamangun, Maruloh menegaskan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi realitas dunia kerja yang terus berubah. Mahasiswa saat ini butuh lebih sekadar ilmu pengetahuan.
Mereka harus memiliki pengalaman, keterampilan praktis, kemampuan digital, serta pemahaman terhadap kebutuhan industri agar mampu bersaing setelah lulus.
‘’Karena itu, UNM terus menghadirkan program yang mendukung kesiapan karier mahasiswa sejak dini,” ujarnya dalam rilis yang dikutip Jumat (26/6/2026).
Salah satu program unggulan yang menjadi pembeda adalah Internship Experience Program (IEP) 3+1, yaitu skema pendidikan yang memungkinkan mahasiswa menjalani tiga tahun perkuliahan dan satu tahun magang profesional di dunia industri.
Melalui program ini, mahasiswa berkesempatan mendapatkan pengalaman kerja nyata di lebih dari 300 perusahaan mitra nasional dan multinasional. Jadi mereka mampu memahami budaya kerja profesional sekaligus membangun jejaring industri sebelum menyelesaikan studi.
“Selain program magang, mahasiswa UNM juga didorong aktif mengikuti berbagai kegiatan pengembangan kompetensi seperti pelatihan industri, seminar teknologi, sertifikasi profesi, kompetisi akademik, hingga program rekrutmen dan career development yang difasilitasi oleh Nusa Mandiri Career Center (NCC),” ungkapnya.
Menurut Maruloh, pendekatan tersebut menjadi langkah strategis untuk memastikan lulusan memiliki nilai tambah ketika memasuki dunia kerja.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya lulus dengan ijazah, tetapi juga memiliki portofolio, pengalaman profesional, sertifikasi, dan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan industri. Dengan begitu, mereka memiliki peluang yang lebih besar untuk sukses di dunia kerja maupun menjadi entrepreneur di era digital,” tambahnya.
UNM terus berkomitmen menghadirkan pendidikan tinggi yang relevan dengan perkembangan zaman.
Melalui semangat ‘Ubah Mimpi Jadi Prestasi’, UNM mengajak generasi muda untuk tidak hanya mengejar gelar, tetapi juga membangun kompetensi, pengalaman, dan kesiapan karier sejak hari pertama menjadi mahasiswa.
Di tengah persaingan yang semakin kompetitif, memilih kampus yang tepat menjadi investasi penting untuk masa depan. Sebab, kini perusahaan tak hanya mencari lulusan yang pintar secara akademik, juga individu yang siap berkarya, beradaptasi, dan memberikan solusi di era transformasi digital.




