Rabu 24 Jun 2026 16:52 WIB

Ada Upaya Kolonial Tutup-tutupi Hubungan Turki dan Kerajaan Nusantara?

Hubungan historis antara Ottoman dan Nusantara sudah berlangsung sejak abad ke-15.

Ilustrasi kapal pembawa rempah-rempah dari Nusantara bersandar di Istanbul.
Foto: Surname-i Vehbi/Repro Turki Utsmani-Indonesia
Ilustrasi kapal pembawa rempah-rempah dari Nusantara bersandar di Istanbul.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Duta Besar Turki untuk Indonesia Prof Talip Küçükcan menegaskan hubungan antara Indonesia dan Turki tidak hanya berusia 76 tahun sejak pembukaan hubungan diplomatik modern, tetapi telah terjalin jauh sebelumnya sejak masa Kesultanan Ottoman. Namun, menurutnya hubungan itu sempat coba ditutup-tutupi kolonial.

Dalam wawancara khusus dengan Republika di Kedutaan Besar Turki di Jakarta, Selasa (23/6/2026), Küçükcan menjelaskan bahwa arsip-arsip Ottoman mencatat hubungan antara Istanbul dan kerajaan-kerajaan di Nusantara sejak abad ke-15 dan ke-16.

Baca Juga

"Hubungan diplomatik modern memang baru berusia 76 tahun, tetapi hubungan historis antara Ottoman dan Nusantara sudah berlangsung sejak abad ke-15 dan ke-16," ujar Küçükcan.

Menurut dia, keberadaan arsip Ottoman yang sangat lengkap menjadi bukti kuat hubungan tersebut. Seluruh surat-menyurat, kunjungan diplomatik, hingga aktivitas pemerintahan terdokumentasi dan masih tersimpan hingga kini.

Berdasarkan arsip tersebut, kata dia, kontak awal terjadi ketika Kesultanan Aceh mengirim delegasi ke Istanbul untuk meminta bantuan menghadapi ancaman Portugis.

"Bahkan terdapat sebuah buku tebal yang secara khusus mendokumentasikan hubungan Indonesia dan Turki berdasarkan arsip Ottoman," katanya sambil menunjukkan buku berisi salinan dokumen-dokumen tersebut.

photo
Duta Besar Turki untuk Indonesia Prof Talip Küçükcan (kanan) menghadiri Perayaan 75 tahun hubungan Turki-Indonesia di Museum Tekstil, Jakarta, Selasa (18/11/2025) - (Istimewa)
 

Küçükcan juga mengungkapkan bahwa pada masa berikutnya Ottoman menempatkan Konsul Jenderal di Batavia. Menurut catatan sejarah, kantor sekaligus kediaman pertama Konsul Jenderal Ottoman pada 1881 berada di bangunan yang kini menjadi Museum Tekstil Jakarta.

"Ini menunjukkan bahwa hubungan historis kedua bangsa sangat kuat, meskipun belum banyak diketahui masyarakat luas," ujarnya.

Pengaruh Kolonialisme

Saat ditanya mengenai kemungkinan adanya upaya penghapusan memori sejarah hubungan Nusantara dan Turki pada masa kolonial, Küçükcan menilai kolonialisme memiliki pengaruh besar terhadap terjadinya kesenjangan memori sejarah tersebut.

"Saya percaya periode kolonial memiliki pengaruh besar terhadap hal itu. Jika kita melihat masa kolonial di Indonesia, kekuatan kolonial tidak banyak membuka sekolah maupun perpustakaan," katanya.

Ia menambahkan, akses terhadap arsip sejarah pada masa itu sangat terbatas. Sebagian dokumen bahkan dibawa ke Belanda sehingga mempersempit ruang masyarakat untuk mengenali sejarah mereka sendiri.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi