Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieterzoon Coen
Foto: AI
Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieterzoon Coen
Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieterzoon Coen (AI)
Red: Karta Raharja Ucu

Fatahillah Bebaskan Sunda Kalapa dari Portugis, JP Coen Bumihanguskan Jayakarta Lalu Bangun Batavia

Selasa 23 Jun 2026 14:25 WIB
Oleh: Almarhum Alwi Shahab

REPUBLIKA.CO.ID, Senin, 22 Juni 2026, Jakarta berusia 499 tahun, satu tahun menjelang lima abad alias 500 tahun. Tapi, tahukah Anda HUT Jakarta justru baru dirayakan tahun 1956. Itu pun sebatas sidang istimewa DPRD yang juga berlangsung hingga kini.

Sampai 1956, belum diketahui tanggal dan bulan kelahiran Jakarta. Untuk itu, Wali Kota Jakarta Raya Sudiro — sekitar 1955 — mengumpulkan sejumlah ahli sejarah di Balaikota. Di antara mereka terdapat Mr Mohammad Yamin, wartawan senior Sudarjo Tjokrosisworo, dan Mr Dr Sukanto.

Baca Juga

Khusus kepada ketiga sejarawan ini, Sudiro minta agar mereka meneliti bila kota Jakarta didirikan. Yang dimaksud bukanlah Batavia-nya Jan Pieterzoon Coen, tapi Jakarta yang didirikan Fatahillah di atas puing-puing benteng Portugis. Tahunnya, menurut sejarah sudah pasti 1527. Tetapi bulan dan tanggal berapa Fatahillah menaklukkan Portugis di Teluk Jakarta.

”Saya sangat ingin kelak memperingati dan insya Allah merayakan hari lahir Jakarta setiap tahun. Para warga akan saya anjurkan memperingatinya,” tulis Sudiro dalam sebuah buku mengenai kesan-kesannya sebagai wali kota.

Dari tiga orang tokoh itu ternyata hanya Mr Dr Sukanto yang berhasil meneliti. Hasil penyelidikan sejarawan yang ketua Arsip Nasional selama berbulan-bulan menyimpulkan 22 Juni 1527 sebagai hari paling dekat kesuksesan Fatahillah mengalahkan Portugis di Teluk Jakarta. Pada 22 Juni 1956, Sudiro mengajukan ke sidang pleno DPRD DKI, dan diterima.

Kemudian ditetapkan setiap 22 Juni diadakan sidang istimewa DPRD, dan berlangsung hingga kini. Memang, tidak sampai satu abad Jayakarta yang dibangun Fatahillah ditaklukkan Belanda (1619), dan berganti nama menjadi Batavia.

Ada cerita menarik dibuat seorang Jerman bernama Albrecht Schmedlopp, saksi mata yang menyaksikan penaklukan ini. Ketika itu, Schmedlopp seorang apoteker yang masuk ke dalam dinas VOC. Ia menceritakan pengalamannya itu dalam sebuah buku berjudul Apa yang terjadi di Jacatra. 

Schmedlopp yang disebutkan sebagai penulis netral, menceritakan bagaimana JP Coen tanpa mengenal ampun menghancurkan Jayakarta. ”Padahal,” ujarnya, ”orang Jawa (sebutan untuk para pengikut Pangeran Jayakarta – Red), menginginkan perdamaian. Jenderal (JP Coen-Red), tidak menghiraukannya.”

Selanjutnya ia menulis: ”Pada 14 Mei 1619 pagi hari dari benteng kita (VOC) mengirimkan berbagai pasukan bersenjata ke kota dan istana, kemudian membunyikan alarm, membuka gerbang benteng dan menyeberangi sungai dengan kapal kecil, memasang tangga, menaiki, dan menduduki kota.” 

Bagikan: