REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan urgensi pembangunan Giant Sea Wall atau Tanggul Laut Pantai Utara Jawa sebagai upaya strategis menghadapi ancaman lingkungan yang kian serius di wilayah pesisir. Menurutnya, proyek tersebut menjadi langkah penting untuk melindungi kawasan Pantura dari banjir rob, kenaikan muka air laut, serta penurunan muka tanah yang semakin mengkhawatirkan.
AHY mengatakan proyek Giant Sea Wall bukan sekadar pembangunan tanggul laut, melainkan bagian dari upaya jangka panjang untuk melindungi jutaan penduduk, kawasan industri, pusat logistik, serta berbagai aktivitas ekonomi yang menjadi tulang punggung nasional di wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura).
“Kita menghadapi dua tantangan sekaligus, yaitu kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim dan penurunan muka tanah yang terjadi di sejumlah wilayah Pantura. Karena itu, langkah mitigasi tidak bisa ditunda,” ujar Menko AHY usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Senin (22/6/2026).
Ia menjelaskan, pemerintah akan memprioritaskan penanganan kawasan Teluk Jakarta serta koridor Demak–Semarang–Kendal yang selama ini menghadapi tekanan cukup besar akibat banjir rob dan penurunan muka tanah.
AHY menuturkan, pengembangan Giant Sea Wall dirancang sebagai proyek jangka panjang yang membentang dari Banten hingga Jawa Timur sepanjang kurang lebih 575 kilometer. Proyek tersebut diharapkan menjadi bagian penting dari strategi adaptasi perubahan iklim sekaligus penguatan ketahanan kawasan pesisir Indonesia.
Namun demikian, pendekatan yang ditempuh tidak hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur keras berupa tanggul laut. Pemerintah juga mengombinasikannya dengan solusi berbasis alam melalui rehabilitasi mangrove, pemulihan ekosistem pesisir, serta berbagai upaya konservasi lingkungan lainnya.
“Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga berkelanjutan secara lingkungan,” kata AHY.
Selain melindungi kawasan pesisir, proyek Giant Sea Wall juga diproyeksikan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi baru di Pantura melalui peningkatan konektivitas wilayah, pengembangan kawasan strategis, serta masuknya investasi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja dan mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.
AHY menyebut pemerintah menyiapkan berbagai skema pembiayaan dan pengembangan kawasan, termasuk pendekatan land value capture, guna memastikan manfaat ekonomi yang dihasilkan proyek tersebut dapat dirasakan secara luas dan berkelanjutan.
Menurutnya, pembangunan Giant Sea Wall harus dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk melindungi masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kawasan pesisir utara Pulau Jawa.
“Tujuan akhirnya bukan hanya melindungi Pantura, melainkan juga menjadikan kawasan ini lebih produktif, lebih kompetitif, dan mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan,” kata AHY.




