REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta segera melakukan penyesuaian tarif Transjabodetabek. Tarif untuk beberapa rute layanan transportasi umum yang beroperasi ke daerah penyangga itu bakal mengalami kenaikan, salah satunya rute Blok M-Bandara Soekarno-Hatta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, penyesuaian tarif Transjabodetabek saat ini masih dalam tahap pembahasan. Pembahasan itu disebut bakal segera difinalisasi dalam waktu dekat. "Segera difinalkan," kata dia dikutip Sabtu (13/6/2026).
Ia menyatakan, saat ini tarif Transjabodetabek yang berlaku masih sama seperti sebelumnya, yaitu Rp 2.000 untuk pukul 05.00-07.00 WIB dan Rp 3.500 untuk pukul 07.00-22.00 WIB. Tarif baru nantinya akan berlaku setelah adanya keputusan dari Pemprov DKI Jakarta.
Pramono menegaskan, kenaikan tarif itu tidak akan berlaku untuk seluruh rute Transjabodetabek. Hanya beberapa rute yang tarifnya akan naik, salah satunya Blok M-Bandara Soekarno-Hatta.
"Saya juga ingin meluruskan sekali lagi, bahwa yang Transjabodetabek, tidak semuanya kemudian nantinya apa, tarifnya itu naik gitu ya. Kalau ada penyesuaian tentunya sama dengan Transjakarta," kata dia.
Ia menilai, selama ini layanan Transjabodetabek memiliki peminat yang tinggi, termasuk untuk rute Blok M-Bandara Soekarno-Hatta. Menurut dia, pengguna layanan itu per harinya telah lebih di atas 2.000 orang.
"Karena memang apa ya, aktivitas orang ke bandara kan tinggi, dan sekarang ini yang menggunakan bus itu dibandingkan dengan transportasi lain, mereka lebih rata-rata lebih cepat karena punya apa, akses tersendiri dan itu keuntungannya," kata dia.
Diketahui, Pemprov DKI Jakarta harus menanggung beban subsidi Rp 3,75 triliun untuk layanan Transjakarta pada 2026. Dari total anggaran itu, subsidi yang diberikan untuk 18 rute Transjabodetabek mencapai Rp 400 miliar.




