REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Riak-riak konflik antara Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memenuhi pemberitaan media internasional dalam beberapa waktu terakhir. Perseteruan itu tak terlepas dari langkah Israel yang tak kunjung berhenti melancarkan agresi militernya.
Dalam suatu panggilan telepon misalnya, Trump sempat menyerca Netanyahu dengan kata-kata 'gila' lantaran melancarkan agresi besar-besaran ke Lebanon yang menuai kecaman internasional.
Terakhir Trump meminta agar Netanyahu tidak melanjutkan serangan aksi balasan ke Iran atau Israel akan semakin terisolasi.
Salah satu alasan Trump ogah melanjutkan perang dengan Iran karena ia yakin kesepakatan mengakhiri perang segera terwujud. Ia yakin kesepakatan ini akan memperkuat kemenangan total AS terhadap Iran.
"Ini akan menjadi kemenangan total. Ini akan terjadi sangat segera, dan harga minyak akan anjlok," ujarnya, Senin (8/6/2026).
Namun melihat hubungan erat AS-Israel saat ini, aneh rasanya jika Trump benar-benar ingin berserteru dengan Netanyahu. Apalagi keduanya adalah otak di balik agresi ke Iran pada 28 Februari lalu.
Trump telah melegitimasi serangan yang menewaskan ribuan jiwa itu dengan beragam dalih. Dari mulai menyingkirkan rezim terror hingga menyetop kemampuan Iran untuk membuat senjata nuklir.
Karena itu, kemarahan itu diyakini tak lantas membuat hubugan keduanya seolah menjauh atau membuat seakan-akan AS tidak berdosa dengan agresi militer tersebut. Trump jelas-jelas memerintahkan penyerangan terhadap Iran tanpa memikir risiko maupun cara untuk mengakhirinya.
Lihat postingan ini di Instagram




