REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- NATO meluncurkan satuan tugas eksperimental baru untuk menguji berbagai sistem tanpa awak di kawasan Arktik. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya fokus aliansi militer pimpinan Amerika Serikat tersebut terhadap wilayah Kutub Utara yang dinilai memiliki nilai strategis tinggi.
Peluncuran unit bernama Task Force X-Arctic (TFX-Arctic) diumumkan akhir pekan lalu bersamaan dengan keberangkatan kapal riset Alliance dari La Spezia, Italia. NATO menyatakan satuan tugas tersebut akan beroperasi hingga 2027 untuk menguji pemanfaatan sistem tanpa awak dalam mendukung pengawasan dan kesadaran situasional di Atlantik Utara, Arktik, dan kawasan Kutub Utara.
Menurut NATO, program ini merupakan kelanjutan dari gugus tugas serupa yang sebelumnya diuji di Laut Baltik pada tahun lalu. Melalui TFX-Arctic, aliansi berharap dapat mengintegrasikan teknologi baru sekaligus mengembangkan standar operasional masa depan untuk lingkungan Arktik yang dikenal ekstrem.
"Task Force X-Arctic bertujuan menguji dan mengintegrasikan teknologi baru di salah satu lingkungan operasional paling menantang di planet ini. Ini akan membantu sekutu menentukan standar masa depan dan mempertahankan keunggulan tempur yang diperlukan untuk beroperasi, beradaptasi, dan menang di Kutub Utara," kata Panglima Tertinggi Sekutu NATO untuk Transformasi, Laksamana Pierre Vandier, sebagaimana diberitakan Russia Today pada Selasa (9/6/2026).
Pengumuman tersebut muncul ketika NATO tengah menggelar latihan militer BALTOPS 26 di kawasan Baltik. Latihan tahunan yang memasuki penyelenggaraan ke-55 itu melibatkan sekitar 6.000 personel dari 15 negara anggota NATO.
Aliansi menyebut salah satu tujuan latihan adalah meningkatkan kemampuan pencegahan terhadap potensi ancaman Rusia. Tahun ini, untuk pertama kalinya BALTOPS dipimpin oleh Allied Joint Force Command Brunssum yang berbasis di Belanda, bukan oleh Amerika Serikat.
Sementara itu, Rusia kembali menyuarakan keberatannya terhadap peningkatan aktivitas militer NATO di kawasan Arktik. Moskow menilai langkah-langkah yang diambil aliansi justru menjadi faktor utama meningkatnya militerisasi wilayah tersebut.
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya menyatakan NATO memandang Arktik sebagai titik awal bagi kemungkinan konflik di masa depan. Menurut Kremlin, Rusia akan mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga kepentingan dan keamanannya di kawasan itu.
Pekan lalu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova juga menuding negara-negara anggota NATO sengaja membesar-besarkan ancaman Rusia untuk membenarkan peningkatan belanja militer.
Zakharova mengatakan narasi mengenai ancaman Rusia digunakan untuk menjelaskan kepada masyarakat mengapa pemerintah negara-negara NATO perlu mengalokasikan dana tambahan bagi sektor pertahanan dibandingkan untuk menyelesaikan persoalan ekonomi dan sosial yang dihadapi warga mereka.




