Senin 08 Jun 2026 18:51 WIB

EKSKLUSIF: Wamenlu RI Ungkap Tanda-Tanda Keruntuhan Israel

Israel mati langkah dalam memertahankan eksistensinya.

Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta saat berbincang dengan Republika di Jakarta, Senin (8/6/2026).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta saat berbincang dengan Republika di Jakarta, Senin (8/6/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta, menilai perjuangan Palestina saat ini telah memasuki babak baru. Menurut dia, dukungan internasional terhadap Palestina tidak lagi semata-mata didorong faktor politik, melainkan telah berkembang menjadi isu kemanusiaan yang mendapat perhatian luas masyarakat dunia.

Anis mengatakan salah satu dampak paling signifikan dari genosida di Gaza adalah terkikisnya dukungan moral terhadap Israel di negara-negara Barat. Jika di dunia Islam dukungan terhadap Israel telah lama tumbuh, menurut dia kini fenomena serupa mulai terlihat di Amerika Serikat dan Eropa.

Baca Juga

"Basis dukungan moral Israel di Barat mulai hilang. Narasi yang selama ini menjadi landasan dukungan terhadap Israel kini mengalami keruntuhan," kata Anis dalam wawancara khusus dengan Republika, Senin (8/6/2026).

Menurut dia, berbagai survei di Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan terjadinya perubahan sikap publik terhadap Israel, termasuk di kalangan generasi muda Yahudi. Kondisi tersebut, kata Anis, menjadi salah satu kemenangan penting dalam sejarah panjang perjuangan Palestina.

Anis menilai hilangnya legitimasi moral itu menimbulkan persoalan eksistensial bagi Israel. Sebab, negara-negara dan kelompok masyarakat yang selama ini menjadi pendukung utama Israel mulai menunjukkan perubahan sikap secara signifikan.

Dalam pandangannya, terdapat dua opsi strategis yang dapat ditempuh Israel untuk mempertahankan eksistensinya di tengah perubahan lanskap politik global dan regional.

photo
Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta saat berbincang dengan Republika di Jakarta, Senin (8/6/2026). - (Republika/Thoudy Badai)

Opsi pertama, kata dia, adalah mempercepat integrasi ke dalam sistem politik kawasan Timur Tengah melalui normalisasi hubungan dengan negara-negara Muslim. Menurut Anis, upaya tersebut tercermin dalam inisiatif Abraham Accords yang mulai didorong pada periode pertama pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

"Tujuannya adalah mengintegrasikan Israel ke dalam sistem politik Timur Tengah dan dunia Islam sebagai bagian dari upaya mempertahankan eksistensinya," ujarnya.

Namun, Anis menilai peluang keberhasilan strategi normalisasi tersebut semakin mengecil setelah genosida di Gaza dan meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran. Isu yang berkembang terkait dugaan pelanggaran kemanusiaan dalam konflik Gaza, menurut dia, telah memperumit proses normalisasi yang sebelumnya mulai berjalan.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi