REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden RI menyatakan, rakyat Indonesia tidak boleh lagi menjadi penonton di atas kekayaan bangsanya sendiri. Pendapat RI 1 tersebut dinilai menjadi pengingat penting bahwa pengelolaan sumber daya alam (SDA) harus mampu menghadirkan kesejahteraan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Wakil Kepala Kajian Iklim Bisnis dan Rantai Nilai Global Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEB UI, Dr Christina Ruth Elisabeth menjelaskan, potensi sumber daya alam (SDA) Indonesia memang sangat besar. Bahkan, SDA sebenarnya bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi pada masa depan.
"Potensinya sangat besar karena SDA dapat menjadi sumber ekspor, investasi, penerimaan negara, industrialisasi, dan penciptaan lapangan kerja. Indonesia memiliki posisi kuat pada mineral strategis seperti nikel, tembaga, emas, bauksit, timah, serta potensi logam tanah jarang, sehingga dapat memanfaatkan kebutuhan global terhadap mineral kritis," kata Ruth di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Menurut Ruth, SDA dapat membantu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pada 2025 tercatat tumbuh 5,11 persen. Meski begitu, ia mengingatkan, kekayaan alam tidak otomatis menjamin kesejahteraan masyarakat.
"Namun, SDA tidak otomatis menjamin kesejahteraan, apalagi jika hanya diekspor sebagai bahan mentah atau diolah secara terbatas. Manfaatnya bisa kecil, rentan terhadap fluktuasi harga komoditas, dan dapat menimbulkan biaya lingkungan yang serius," kata Ruth.
Dia pun mengingatkan, pemerintah perlu menaruh perhatian yang sama terhadap hilirisasi sektor pertanian. Hal itu mengingat sektor tersebut berpotensi meningkatkan kesejahteraan jutaan petani sekaligus mendukung industri makanan dan minuman nasional.




