Kamis 04 Jun 2026 08:42 WIB

Dulu Bunuh Ayah, Ibu, Istri Hingga Anak, Trump Kini Ingin Bertemu Mojtaba Khamenei

Trump kini ingin bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Iran.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Andri Saubani
Warga Iran berjalan di depan foto Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei di Teheran, Ahad (19/4/2026).
Foto: EPA/Abedin Taherkenareh
Warga Iran berjalan di depan foto Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei di Teheran, Ahad (19/4/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa dia ingin bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. Hal itu disampaikan saat kedua negara sedang saling menuduh melanggar kesepakatan gencatan senjata. 

"Saya ingin bertemu dengannya, dan kami mungkin akan bertemu suatu saat nanti, tergantung bagaimana semuanya berjalan," kata Trump kepada dalam siniar "Pod Force One" New York Post, Rabu (3/6/2026). 

 

Trump pun mengaku telah mendengar kabar bahwa Mojtaba Khamenei tidak dalam kondisi kesehatan yang baik. AS meyakini bahwa Mojtaba turut mengalami luka ketika Washington meluncurkan serangan ke Iran yang turut membunuh Ali Khamenei, ayah Mojtaba, pada 28 Februari 2026. 

 

"Saya tidak mendengar kabar bahwa kondisinya baik. Jika Anda percaya cerita-cerita itu, dia kehilangan banyak bagian tubuh," kata Trump. 

 

Diketahui serangan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 tak hanya mengakibatkan wafatnya Ali Khamenei tapi juga ibu, istri, hingga anak dari Mojtaba yang kemudian ditunjuk menggantikan ayahnya sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran.

 

photo
Orang-orang melewati papan reklame yang menampilkan mendiang pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini (kiri), Ayatollah Ali Khamenei (tengah), dan pemimpin tertinggi baru Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei (kanan) di Lapangan Valiasr di Teheran, Iran, 10 Maret 2026. - (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)

 

 

 

Terkait perundingan damai dengan AS, pada bulan lalu, Mojtaba menginstruksikan bahwa uranium diperkaya negaranya tidak akan dikirim ke luar negeri. Instruksi Mojtaba itu diungkapkan dua sumber dari kalangan pejabat senior Iran dikutip Reuters dilansir Independent, Kamis (21/5/2026).

 

"Instruksi Pemimpin Tertinggi, dan konsensus di dalam kepemimpinan, bahwa stok uranium diperkaya harus tidak keluar dari negara (Iran)," ujar salah satu pejabat senior Iran.

 

Para pejabat tinggi Iran, kata sumber itu, meyakini bahwa membawa keluar material uranium diperkaya ke luar negeri akan membuat Iran lebih rapuh dari serangan AS dan Israel. Menurut data IAEA, Iran saat memiliki 440 kilogram uranium dengan tingkat pemurniaan 60 persen saat AS dan Israel melanarkan serangan ke fasilitas nuklir pada Juni 2025.

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement