REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ukraina semakin memperluas sasaran serangannya ke dalam wilayah Rusia. Kali ini, drone-drone Ukraina dilaporkan menghantam dua pesawat anti-kapal selam strategis Rusia jenis Tu-142, aset militer langka yang selama ini menjadi bagian penting dari kemampuan Moskow memantau dan memburu kapal selam NATO.
Der Spiegel menyebut serangan tersebut bukan sekadar pukulan taktis dalam perang Rusia-Ukraina. Dampaknya dinilai jauh lebih luas karena menyentuh salah satu komponen penting pertahanan strategis Rusia dalam menghadapi NATO.
“Bagi Moskow, pukulan sensitif ini terutama berdampak pada kemungkinan perang dengan NATO,” tulis Der Spiegel dalam laporannya pada Senin (1/6/2026).
Tu-142 merupakan pesawat patroli maritim jarak jauh yang dirancang untuk mendeteksi, melacak, dan menghancurkan kapal selam musuh. Armada ini selama puluhan tahun menjadi bagian penting jaringan pengawasan laut Rusia, khususnya di Atlantik Utara dan kawasan Arktik yang menjadi arena persaingan strategis dengan NATO.
Menurut laporan berbagai media Barat, drone Ukraina menyerang pangkalan udara Rusia di kawasan Taganrog dekat Laut Azov. Rekaman yang beredar menunjukkan drone menghantam langsung badan pesawat ketika berada di landasan.
Nilai strategis Tu-142 membuat kerugian Rusia tidak mudah digantikan. Pesawat era Soviet tersebut sudah tidak lagi diproduksi dan jumlah yang masih aktif relatif terbatas. Karena itu, kehilangan satu unit saja dapat memengaruhi kemampuan patroli maritim Rusia dalam jangka panjang.
Serangan ini juga memperlihatkan perubahan pola perang yang terus berkembang sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Jika pada awal perang Ukraina lebih banyak bertahan di garis depan, kini Kyiv semakin sering menyerang target bernilai tinggi jauh di dalam wilayah Rusia menggunakan drone berbiaya relatif murah.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa serangan semacam itu merupakan respons terhadap agresi Rusia yang terus berlangsung. “Kami secara sah membawa perang kembali ke tempat asalnya,” kata Zelensky.
Sejumlah analis militer menilai serangan terhadap aset strategis seperti Tu-142 menunjukkan bahwa Ukraina tidak lagi hanya berupaya mengganggu operasi tempur Rusia di garis depan. Kyiv kini tampak berusaha mengikis kemampuan militer Rusia yang memiliki relevansi lebih luas, termasuk dalam keseimbangan kekuatan Moskow dengan NATO.




