Ahad 24 May 2026 16:20 WIB

Jalur Langit yang Ditempuh Seorang Ibu saat Sang Anak dalam Penculikan Zionis Israel

Hani Hanifa masih mengingat percakapan terakhir dengan anaknya pada Senin pekan lalu.

Rep: Muhammad Noor Alfian Choir/ Red: Mas Alamil Huda
Massa dari berbagai organisasi dan elemen masyarakat menggelar aksi menyerukan pembebasan aktivis kemanusiaan yang di dalamnya terdapat sejumlah jurnalis di antaranya dari Republika yang diculik Zionis Israel dalam missi Global Sumud Flotilla (GSF), di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa (19/5/2026). Aksi tersebut menyuarakan agar pemerintah Indonesia segera melakukan tindakan.
Foto: Edi Yusuf
Massa dari berbagai organisasi dan elemen masyarakat menggelar aksi menyerukan pembebasan aktivis kemanusiaan yang di dalamnya terdapat sejumlah jurnalis di antaranya dari Republika yang diculik Zionis Israel dalam missi Global Sumud Flotilla (GSF), di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa (19/5/2026). Aksi tersebut menyuarakan agar pemerintah Indonesia segera melakukan tindakan.

REPUBLIKA.CO.ID, Hari-hari terakhir ini menjadi masa yang tidak mudah bagi keluarga Hani Hanifa Humanisa (56 tahun), ibu dari Thoudy Badai fotografer Republika yang diculik tentara zionis Israel dalam perjalanan misi perdamaian di perairan internasional Mediterania Timur. Meskipun kini sudah ada kabar baik bahwa rombongan WNI akan tiba di tanah air Ahad (24/5/2026) hari ini, namun jauh sebelumnya sang ibu mengaku hanya bisa mengandalkan satu hal, jalur langit.

Ia masih mengingat percakapan terakhir dengan anaknya pada Senin pekan lalu sebelum penangkapan terjadi. Saat itu, Ody (sapaan akrabnya) mengabarkan bahwa kapal mereka dalam kondisi aman dan sudah berada di perairan internasional. Tidak ada firasat buruk sedikit pun dari percakapan tersebut.

Baca Juga

“Dia bilang kondisinya aman, kapalnya terus melaju,” kenangnya.

Namun suasana berubah ketika kabar penangkapan mulai beredar. Sang ibu mengaku syok dan bingung harus melakukan apa. Sebagai orang tua, ia merasa tidak memiliki akses langsung untuk mencari informasi maupun membantu proses pembebasan anaknya.

“Campur aduk bingung lah. Mau ngadu ke mana, mau tanya ke siapa,” katanya. 

Hari-hari setelah itu terasa seperti roller coaster emosi. Ketika muncul kabar bahwa seluruh relawan akan dibebaskan, harapan mulai tumbuh. Ia perlahan merasa lebih tenang dan mulai yakin bahwa anaknya akan segera pulang.

Tetapi ketenangan itu kembali terusik setelah mendengar cerita mengenai perlakuan yang diterima para relawan saat ditangkap. Sang ibu mengaku kembali diliputi rasa sedih dan marah membayangkan anaknya harus mengalami situasi seperti itu.

“Benar-benar roller coaster. Sedih, tenang, naik lagi perasaannya,” katanya.

Di tengah ketidakpastian itu, keluarga memilih menempuh apa yang disebutnya sebagai “jalur langit”. Menurutnya, doa menjadi satu-satunya hal yang benar-benar bisa dilakukan ketika segala sesuatu terasa di luar kendali.

“Yang bisa kita lakukan adalah jalur langit,” katanya. 

Doa-doa itu dipanjatkan di setiap salat wajib maupun sunnah. Ia juga meminta keluarga besar, saudara, hingga kerabat serta tamu yang berdatangan ke rumah untuk ikut mendoakan keselamatan Ody dan relawan lainnya.

Sang ibu mengaku terharu karena dukungan doa datang dari begitu banyak orang, termasuk mereka yang bahkan tidak terlalu dikenalnya. Dukungan itu membuatnya merasa tidak sendirian menghadapi masa sulit tersebut.

“Saya yakin ini salah satu doa yang dikabulkan oleh Allah,” katanya. 

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement