Rabu 20 May 2026 13:58 WIB

AS Mau Pecah Aliansi, China-Rusia Malah Kian Intim, Begini Kata Analis Dunia

Rusia dan China pada dasarnya tidak memandang satu sama lain sebagai musuh.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) dan Presiden China Xi Jinping (tengah) saat menghadiri upacara penyambutan di Great Hall of the People di Beijing, China, 20 Mei 2026.
Foto: EPA/ALEXANDER KAZAKOV/KREMLIN
Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) dan Presiden China Xi Jinping (tengah) saat menghadiri upacara penyambutan di Great Hall of the People di Beijing, China, 20 Mei 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hubungan Rusia dan China disebut telah berkembang menjadi kemitraan strategis yang stabil dan semakin menentukan arah politik global, di tengah meningkatnya rivalitas antara Beijing dan Washington.

Pandangan itu disampaikan analis kebijakan luar negeri Rusia, Fyodor Lukyanov, dalam tulisannya di Russia Today. Tulisan itu muncul di saat Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi Presiden China Xi Jinping di Beijing pada Selasa (19/5/2026). Kunjungan Putin berlangsung setelah Beijing juga menerima kunjungan Presiden Amerika Donald Trump beberapa waktu lalu.

Baca Juga

Lukyanov menilai hubungan Moskow–Beijing kini tidak lagi bersifat pragmatis sementara, melainkan dibangun di atas kebutuhan strategis jangka panjang di kawasan Eurasia.

Menurut Lukyanov, spekulasi mengenai terbentuknya “segitiga besar” antara Rusia, China, dan Amerika Serikat kembali menguat setelah Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan kunjungan ke China tidak lama setelah lawatan Presiden AS Donald Trump ke Beijing.

Namun ia menilai pertemuan Putin dan Presiden China Xi Jinping tidak dapat dipandang dalam kerangka persaingan yang sama dengan hubungan AS–China.

“Amerika Serikat dan China adalah rival strategis, dan persaingan itu bukanlah sesuatu yang sementara,” tulis Lukyanov. Ia menambahkan bahwa era hubungan simbiosis ekonomi antara Washington dan Beijing “kini telah berakhir.”

Dalam artikelnya, Lukyanov menyebut tekanan Amerika Serikat terhadap China justru memperkuat kedekatan Beijing dengan Moskow. Menurut dia, strategi Washington untuk menciptakan jarak antara Rusia dan China belum menunjukkan hasil yang diinginkan.

“Banyak ahli strategi Amerika secara terbuka menegaskan bahwa Amerika Serikat harus menciptakan perpecahan antara Moskow dan Beijing untuk mempertahankan supremasi global,” tulisnya.

“Namun, dalam praktiknya, tekanan AS seringkali menghasilkan hasil yang berlawanan, mendorong kedua kekuatan Eurasia tersebut untuk semakin bersekutu.”

Lukyanov mengatakan hubungan Rusia–China kini meluas ke berbagai sektor, mulai dari politik, perdagangan, energi, keuangan, hingga koordinasi militer. Ia menilai penguatan hubungan kedua negara telah menjadi salah satu faktor penting dalam dinamika global saat ini.

Meski mengakui adanya potensi gesekan dalam bidang perdagangan, investasi, dan pengaruh regional, Lukyanov menilai perbedaan tersebut tidak bersifat mendasar.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement