Selasa 19 May 2026 13:15 WIB

GPCI Minta MPR Desak Presiden Ambil Langkah Cepat Bebaskan WNI Disandera Israel

Permintaan disampaikan GPCI saat bertemu Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid.

Rep: Muhammad Noor Alfian Choir/ Red: Andri Saubani
Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) Ahmad Juwaini, Pengarah GPCI Irvan Nugraha, serta influencer, politisi, dan pemerhati HAM Wanda Hamidah (dari kiri) memberikan konferensi pers terkait update terkini relawan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) di Sasana Budaya Rumah Kita, Gedung Filantropi Dompet Dhuafa, Jakarta, Senin (18/5/2026). Sebanyak puluhan kapal kemanusiaan yang membawa sekitar 450 relawan dari berbagai negara saat ini tengah berlayar di Laut Mediterania dalam misi kemanusiaan untuk mendukung kemerdekaan dan perdamaian Palestina. Berdasarkan informasi terbaru, Angkatan Laut Israel mulai melakukan intersepsi terhadap kapal-kapal yang berupaya menembus blokade Gaza.
Foto: Republika/Prayogi
Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) Ahmad Juwaini, Pengarah GPCI Irvan Nugraha, serta influencer, politisi, dan pemerhati HAM Wanda Hamidah (dari kiri) memberikan konferensi pers terkait update terkini relawan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) di Sasana Budaya Rumah Kita, Gedung Filantropi Dompet Dhuafa, Jakarta, Senin (18/5/2026). Sebanyak puluhan kapal kemanusiaan yang membawa sekitar 450 relawan dari berbagai negara saat ini tengah berlayar di Laut Mediterania dalam misi kemanusiaan untuk mendukung kemerdekaan dan perdamaian Palestina. Berdasarkan informasi terbaru, Angkatan Laut Israel mulai melakukan intersepsi terhadap kapal-kapal yang berupaya menembus blokade Gaza.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) meminta pimpinan MPR RI menyampaikan pesan kepada Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah segera mengambil langkah cepat terkait penyanderaan aktivis kemanusiaan dan jurnalis dalam misi Global Sumud Flotilla 2.0 menuju Gaza. Permintaan itu disampaikan perwakilan GPCI saat bertemu Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Perwakilan GPCI, Ahmad Juwaini, mengatakan saat ini terdapat sembilan warga negara Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan tersebut, terdiri atas lima aktivis kemanusiaan dan empat jurnalis. Ia juga berharap pesan tersebut diteruskan kepada Presiden Prabowo agar pemerintah menugaskan kementerian terkait, kedutaan besar, dan konsulat jenderal Indonesia di berbagai negara untuk membantu pembebasan para relawan

Baca Juga

“(Kami) berharap juga sampai pesan ini bisa disampaikan kepada Pak Presiden Prabowo. Sampai disampaikan pesan ini untuk ikut memerintahkan atau menugaskan badan-badan kementerian di bawah pemerintah, juga termasuk kedutaan-kedutaan besar di Indonesia dan konsulat jenderal di luar negeri yang terkait dengan negara-negara yang kita terlibat dalam kegiatan Global Sumud Flotilla ini untuk dapat membantu membebaskan secepat-cepatnya,” kata Ahmad Juwaini.

Ia menjelaskan, rombongan awalnya berangkat dari Barcelona, Spanyol, pada 12 April 2026. Namun saat memasuki perairan Yunani, gelombang pertama kapal peserta diintersep pasukan Israel dan lebih dari 170 orang ditangkap.

“Sekitar dua hari, tiga hari dibebaskan. Ada dua orang yang baru dibebaskan setelah hampir 12 hari ditahan,” katanya.

photo
Tampilan papan pemantauan peserta Global Sumud Flotilla dari Malaysia dan Indonesia di pusat komando Global Sumud Nusantara di Malaysia, Senin (18/5/2026). - (Dok Jajang Nurjaman)

Setelah itu, misi dilanjutkan dari Marmaris, Turki, bersama delegasi Indonesia yang baru bergabung. Namun, menurut Ahmad, pada Senin siang sekitar pukul 15.00 WIB, kapal-kapal peserta kembali diintersep pasukan Israel.

“Sampai pagi ini dalam catatan Global Sumud Flotilla yang disampaikan kepada kami sudah sekitar 40-an kapal yang ditahan dan 332 aktivis kemanusiaan dan jurnalis dari berbagai negara itu diculik saat ini statusnya,” katanya.

Ahmad meminta pemerintah bergerak cepat karena kondisi para relawan dan jurnalis sangat bergantung pada lamanya masa penahanan.

“Dalam posisi ditahan dan diculik, waktu sangat berarti. Lamanya ditahan itu akan sangat menentukan juga terhadap kondisi dari rekan-rekan kami,” katanya.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement