Selasa 12 May 2026 18:17 WIB

Keir Starmer Menolak Mundur dari Jabatan Perdana Menteri Inggris

Tekanan agar Starmer mundur meningkat usai kekalahan Partai Buruh di pemilu.

Keir Starmer
Foto: tangkapan layar
Keir Starmer

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan kepada para menteri kabinet bahwa ia akan “terus menjalankan pemerintahan”, di tengah meningkatnya tekanan atas kekalahan Partai Buruh dalam pemilihan baru-baru ini dan seruan agar dia mengundurkan diri. Berbicara dalam rapat kabinet, Selasa (12/5/2026), Starmer berusaha untuk menstabilkan pemerintahannya setelah apa yang ia gambarkan sebagai periode "destabilisasi" bagi Westminster.

“Seperti yang saya katakan kemarin, saya bertanggung jawab atas hasil pemilihan ini dan saya bertanggung jawab untuk mewujudkan perubahan yang telah kami janjikan,” kata Starmer dalam siaran pers dari Downing Street No. 10.

Baca Juga

“Negara mengharapkan kita untuk terus menjalankan pemerintahan. Itulah yang saya lakukan dan yang harus kita lakukan sebagai Kabinet,” ujarnya, menambahkan.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kritik di dalam Partai Buruh menyusul kemunduran elektoral partai tersebut. Miatta Fahnbulleh, menteri komunitas, menjadi menteri pertama yang mengundurkan diri, bergabung dengan lebih dari 70 anggota parlemen Partai Buruh yang telah mendesak perdana menteri untuk segera mundur atau menetapkan jadwal untuk meninggalkan jabatannya.

Kekacauan semakin memburuk pada Senin (11/5/2026) malam ketika Downing Street mengganti enam ajudan menteri yang telah mengundurkan diri sebelumnya pada malam itu, dalam upaya untuk menstabilkan jajaran bawah pemerintah seiring meningkatnya tekanan pada perdana menteri.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

sumber : Antara, Anadolu
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement