REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengungkapkan kecanggihan teknologi yang digunakan sindikat judi online (judul) internasional yang digerebek di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta. Meutya memastikan Komdigi bekerjasama dengan aparat guna mengatasi kian canggihnya teknologi judol.
"Dari kasus ini kita lihat juga pelaku terus beradaptasi secara teknologi, mulai ganti domain secara cepat, penggunaan server luar negeri, pemanfaatan akun-akun kamuflase, hingga penyebaran melalui grup komunikasi tertutup," kata Meutya kepada Republika, Selasa (14/5/2026).
Meutya menjelaskan ada komunikasi intens dengan Polri dalam sebulan terakhir. Meutya mensinyalkan pengungkapan kasus di Hayam Wuruk bukti kerjasama lintas lembaga.
"Sebulan terakhir kami komunikasi cukup intens dengan Pak Kapolri. Komdigi terus bekerjasama dengan kepolisian karena Prevention atau pencegahan dan law enforcement atau penegakan hukum harus jalan bersama mengatasai organised transnational crime atau kejahatan terorganisir lintas negara," ujar Meutya.
Meutya menyebut pemberantasan judol tak bisa dilakukan sendiri oleh Komdigi. Apalagi untuk urusan penegakan hukumnya mesti dilakukan Polri.
"Komdigi menekankan pemberantasan judi online perlu kerja sama penegak hukum, pengawas keuangan, platform digital, penyedia layanan internet dan partisipasi masyarakat," ucap Meutya.
Meutya juga menegaskan penggerebekan di Hayam Wuruk bukti pemerintah hadir dalam upaya melawan judol secara kontinu. Meutya menjamin Komdigi terus memantau ruang digital agar bebas dari judol.
"Komdigi terus memperkuat patroli siber dan ini dilakukan bersama polri dan pihak lainnya," ujar Meutya.




