Senin 11 May 2026 05:55 WIB

Senjata Tanpa Kata Ratu Elizabeth yang Menggetarkan Nyali Kepala Negara

Pemimpin besar tidak boleh terjebak dalam reaksi sesaat.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Ratu Elizabeth
Foto: EPA
Ratu Elizabeth

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dunia mengenalnya sebagai sosok yang tenang, lembut, dan nyaris tak pernah marah di depan umum. Namun di balik ketenangan itu, Ratu Elizabeth II menyimpan senjata yang jauh lebih ampuh dari bentakan mana pun: diamnya.

Fakta ini terungkap dalam buku terbaru penulis kerajaan Inggris Robert Hardman berjudul Elizabeth II: In Private, In Public: Her Story, yang membongkar sisi pribadi sang ratu yang selama ini tersembunyi dari mata publik.

Baca Juga

Lebih Tajam dari Kata-Kata

Di lingkungan Istana Buckingham, ada satu hal yang paling ditakuti para pejabat, staf, hingga perdana menteri: "the look", alias  tatapan dingin sang ratu.

Hardman menggambarkannya bukan sebagai amarah biasa, melainkan sebagai ketidaksenangan yang disampaikan tanpa sepatah kata pun. Siapa pun yang dianggap bersikap kasar, terlalu akrab, atau tidak kompeten, cukup mendapat satu tatapan tajam dari Elizabeth II.

"Semua orang sangat takut mendapat tatapan itu," tulis Hardman. Bahkan mantan Perdana Menteri Tony Blair pun mengaku pernah merasa gentar di hadapan sang ratu, sebagaimana diberitakan Foxnews pada Ahad (10/5/2026).

Salah satu kisah paling terkenal terjadi pada 2002, saat kunjungan Yubileum Emas Ratu ke Selandia Baru. Elizabeth hadir dengan pakaian kebesaran lengkap, tiara, dan perhiasan kerajaan. Sementara Perdana Menteri Selandia Baru Helen Clark justru datang mengenakan celana panjang kasual ke jamuan resmi parlemen.

Ratu tidak menegur. Tidak ada kata-kata keras. Namun tatapannya sudah cukup berbicara segalanya.

Bahasa Kekuasaan

Ketenangan Elizabeth II bukan sekadar gaya pribadi. Para sejarawan melihatnya sebagai strategi kepemimpinan yang telah teruji ribuan tahun.

Dua ribu tahun sebelumnya, Kaisar Romawi Augustus membangun kekaisaran bukan lewat gertakan, melainkan lewat pengendalian diri dan kekuatan simbol. Sejarawan Edward Gibbon dalam karya monumentalnya mencatat bahwa Augustus memahami satu hal yang sering dilupakan pemimpin modern: penguasa yang terlalu emosional justru melemahkan dirinya sendiri.

Hal serupa terlihat pada Kaisar Antoninus Pius, yang memerintah Romawi di masa paling damai dan stabil dalam sejarahnya. Ia bukan pemimpin yang gemar pidato besar atau pertunjukan kekuasaan. Ia memerintah lewat ketertiban, konsistensi, dan ketenangan. Hasilnya justru luar biasa.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement