Ahad 10 May 2026 16:03 WIB

Menyusut 4,8 Juta Barel, Persediaan Minyak Dunia Capai Level Terendah Sejak 2018

AS terdampak kenaikan harga minyak di tengah perang dengan iran.

Kapal eksplorasi minyak lepas pantai (ilustrasi)
Kapal eksplorasi minyak lepas pantai (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Persediaan minyak dunia dilaporkan mengalami penurunan tajam seiring dengan berkecamuknya perang AS-Israel melawan Iran. Berdasarkan laporan Bloomberg yang dikutip Middle East Eye, Sabtu(9/5/2026), konflik tersebut telah menghambat arus minyak mentah dari kawasan Teluk menyusul penutupan terhadap Selat Hormuz.

Data menunjukkan bahwa cadangan minyak dunia menyusut sekitar 4,8 juta barel per hari dalam periode 1 Maret hingga 25 April. Penurunan ini mendorong cadangan global menuju level terendah sejak 2018.

Baca Juga

Sejumlah eksekutif energi mengungkapkan kepada Bloomberg bahwa tren penurunan ini kemungkinan besar akan terus berlanjut dalam jangka pendek selama gangguan pasokan masih terjadi. Mereka menambahkan, meski Selat Hormuz nantinya dibuka kembali, produksi dan pengiriman di seluruh Teluk diperkirakan tidak akan pulih dengan cepat.

Kondisi ini memaksa negara-negara konsumen bahan bakar utama untuk lebih bergantung pada cadangan strategis mereka. Penipisan cadangan global yang drastis ini dikhawatirkan dapat memicu situasi pasar yang sangat tidak stabil, bahkan setelah konflik di Timur Tengah berakhir.

photo
Sejumlah pekerja melakukan perawatan sumur Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Selasa (14/6/2022). Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memprediksi Indonesian Crude Price (ICP) masih akan mengalami kenaikan sepanjang tahun ini bahkan bisa mencapai 50 persen dari level 2021, dimana harga minyak dunia saat ini sudah mencapai sekitar 120 dolar Amerika per barel yang disebabkan konflik di Rusia dan Ukraina. - (ANTARA/M Risyal Hidayat)

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement