REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyatakan, pemerintah terus mempercepat program normalisasi Sungai Ciliwung. Upaya itu dilakukan untuk pengendalian banjir di Jakarta.
Dia menjelaskan, hingga saat ini progres normalisasi telah mencapai 17 kilometer (km) atau sekitar 52 persen dari total target penanganan sepanjang 33 km. Meski begitu, menurut AHY, masih ada sisa 16 km sungai yang harus dikerjakan.
"Saat ini pembangunan dan revitalisasi termasuk normalisasi sungai sudah mencapai 17 km. Sisanya sekitar 16 km lagi yang harus segera dituntaskan," kata AHY melalui keterangan pers di Jakarta, Kamis (7/6/2026).
AHY menjelaskan, Sungai Ciliwung memiliki panjang sekitar 109 kilometer (km) dengan daerah aliran sungai (DAS) mencapai 521 km persegi yang membentang dari kawasan hulu hingga hilir Jakarta. Di sejumlah titik kritis, lebar sungai saat ini masih berkisar 15-25 meter dengan kapasitas tampung sekitar 200 kubik per detik.
Menurut dia, pemerintah menargetkan pelebaran sungai hingga 35-50 meter. Dengan begitu, kapasitas aliran bisa meningkat menjadi sekitar 570 kubik per detik. "Normalisasi ini harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk pembangunan tanggul setinggi 4 hingga 5 meter agar risiko banjir dapat ditekan," kata AHY.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusumastuti, menilai, pelaksanaan normalisasi Ciliwung masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait pembebasan lahan di kawasan sempadan sungai. Dia mengatakan, persoalan tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan target penyelesaian proyek bergeser dari 2027 menjadi 2028-2029.
"Ketika kami akan membangun tanggul-tanggul tersebut, tanahnya belum bebas sehingga pekerjaan belum bisa dilaksanakan," ucap Diana.
Selain persoalan lahan, kondisi pencemaran sampah di aliran Sungai Ciliwung juga menjadi perhatian serius pemerintah. Berdasarkan kajian penanggulangan sampah Sungai Ciliwung, volume sampah di aliran sungai tersebut diperkirakan mencapai 600-700 ton per hari yang tersebar di sejumlah titik kritis.




