REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Maskapai penerbangan di seluruh dunia mulai membatalkan ribuan penerbangan dan mengurangi kapasitas operasional sepanjang Mei, seiring meningkatnya krisis bahan bakar yang dipicu konflik geopolitik global.
Gangguan ini berpotensi besar mengacaukan rencana perjalanan jutaan penumpang, terutama keluarga yang hendak berlibur pada musim liburan sekolah.
Sekitar 13.000 penerbangan global dijadwalkan dibatalkan sepanjang Mei, sementara maskapai juga telah memangkas hampir dua juta kursi penerbangan dalam dua pekan terakhir, menurut data perusahaan analisis penerbangan Cirium, sebagaimana diberitakan Euronews pada Rabu (6/5/2026).
Data tersebut menunjukkan total kapasitas kursi penerbangan global turun dari 132 juta menjadi 130 juta kursi hanya dalam dua pekan terakhir April.
Maskapai Besar Eropa Terdampak
Sejumlah maskapai besar Eropa turut terdampak kebijakan pengurangan ini, termasuk Lufthansa, British Airways, KLM, dan Turkish Airlines.
Lufthansa menjadi salah satu yang paling terdampak, dengan memangkas sekitar 20.000 penerbangan jarak pendek dari jadwal musim panasnya.
Maskapai-maskapai ini juga mulai menggunakan pesawat yang lebih kecil untuk menghemat bahan bakar, sekaligus menaikkan harga tiket pada rute-rute populer.
Krisis Energi Picu Gangguan Global
Krisis bahan bakar ini dipicu oleh konflik yang melibatkan Iran, yang berdampak langsung pada pasokan energi global.
Sejak konflik meningkat pada Februari, harga bahan bakar pesawat dilaporkan melonjak lebih dari dua kali lipat, sebagian besar akibat gangguan di Selat Hormuz, jalur vital yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Akibatnya, banyak maskapai terpaksa menaikkan harga tiket, mengurangi frekuensi penerbangan, bahkan menghentikan rute tertentu.