Rabu 06 May 2026 14:31 WIB

Medvedev Bongkar Arsip Intelijen Kremlin: Barat Membenarkan Penjahat Perang Nazi

Kemenangan Soviet atas Nazi kerap dipahami sebagai kecelakaan sejarah.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Dmitry Medvedev
Foto: rt.com
Dmitry Medvedev

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menilai proses pembersihan ideologi Nazi di Jerman dan Eropa tidak pernah benar-benar tuntas. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah artikel menjelang peringatan ke-81 kemenangan atas Nazi Jerman.

Medvedev menyebut Jerman Barat pascaperang tidak menjalani denazifikasi secara menyeluruh. Ia merujuk pada arsip Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia yang menurutnya menunjukkan bahwa kekuatan Barat justru membenarkan sebagian tokoh dan struktur yang terkait dengan rezim Nazi.

Baca Juga

“Republik Federal Jerman tidak mengalami denazifikasi yang sesungguhnya. Materi arsip menunjukkan bahwa alih-alih menerapkannya, kekuatan Barat justru mengikuti jalan pembenaran terhadap penjahat perang Nazi,” tulis Medvedev, sebagaimana dilaporkan Russia Today pada Selasa (5/5/2026).

Pernyataan ini sejalan dengan narasi lama Moskow yang menuduh Barat melakukan revanchisme sejarah, termasuk upaya mengaburkan peran Uni Soviet dalam kemenangan atas Nazi pada Perang Dunia II.

Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, juga menuding sejumlah negara Barat belum sepenuhnya menerima hasil akhir perang dan legitimasi putusan Pengadilan Nuremberg.

Ia menyebut, dalam sebagian narasi politik dan akademik di Barat, kemenangan Uni Soviet atas Nazi kerap dipersepsikan bukan sebagai faktor penentu utama, melainkan sekadar “kecelakaan sejarah” atau hasil situasi yang bersifat kebetulan. Dalam perspektif Moskow, narasi seperti ini dinilai berpotensi merelatifkan peran Soviet sekaligus menggeser pusat sejarah kemenangan kepada negara-negara Barat.

Medvedev bahkan menilai Barat secara sengaja mempertahankan unsur-unsur ideologi Nazi dengan membiarkan para pelaku dan struktur pendukungnya tetap eksis pascaperang. Ia mengkritik pendekatan denazifikasi yang dinilai hanya bersifat simbolik, tanpa menyentuh akar ideologis dan jaringan kekuasaan yang lebih luas.

“Seluruh proses berubah menjadi lelucon kosong,” ujarnya, seraya menuding negara-negara Anglo-Saxon lebih memilih melindungi tokoh-tokoh yang dianggap memiliki nilai strategis, terutama dalam bidang ekonomi dan militer.

Ancaman Nyata di Lapangan

Di tengah perang narasi tersebut, ketegangan Rusia–Barat juga tercermin dalam dinamika keamanan aktual di Eropa. Polisi Jerman baru-baru ini menangkap seorang warga negara Kazakhstan yang diduga terlibat dalam aktivitas spionase untuk kepentingan Rusia.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement