Rabu 06 May 2026 13:47 WIB

Jabodetabek Masih Dilanda Hujan Ekstrem, BRIN Jelaskan Alasan Masyarakat tak Perlu Panik

Awan hujan yang berasal wilayah India justru jatuh di Jabodetabek.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Andri Saubani
Polisi membantu mendorong motor milik warga yang mogok akibat menerobos banjir di Puri Kembangan, Jakarta, Selasa (5/5/2026). BPBD DKI Jakarta mencatat hingga pukul 14.00 WIB terdapat 18 Rukun Tetangga (RT) dan satu ruas jalan masih terendam banjir dengan ketinggian berkisar 15 - 95 cm akibat tingginya curah hujan yang menyebabkan air kali meluap.
Foto: ANTARA FOTO/Putra M. Akbar
Polisi membantu mendorong motor milik warga yang mogok akibat menerobos banjir di Puri Kembangan, Jakarta, Selasa (5/5/2026). BPBD DKI Jakarta mencatat hingga pukul 14.00 WIB terdapat 18 Rukun Tetangga (RT) dan satu ruas jalan masih terendam banjir dengan ketinggian berkisar 15 - 95 cm akibat tingginya curah hujan yang menyebabkan air kali meluap.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memantau awan hujan yang berasal wilayah India justru jatuh di Jabodetabek. Awan hujan itu mestinya mengarah ke Indonesia bagian timur.

Hal itu dikatakan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Prof Eddy Hermawan menanggapi hujan selama beberapa hari terakhir di Jabodetabek. Eddy mengamati masih terbentuk awan besar di lautan India.

Baca Juga

Menurut Eddy, seharusnya awan ini sudah mulai bergerak aktif ke arah timur. Tetapi pergerakan awan ini terhambat belum menghangatnya laut Pasifik untuk dapat menarik awan itu.

"Sementara dari arah timur sendiri kan lautan pasifiknya itu belum menghangat begitu. Belum menghangat itu artinya gini, saat ini posisinya itu netral, netral itu artinya dia tidak cukup kuat untuk menarik awan-awan besar lautan India ini menuju kawasan lautan pasifik bagian tengah gitu karena kan yang dilewati itu pasti kawasan di Indonesia dong, ya akibatnya gimana, awan-awan besar ini tidak bisa leluasa meninggalkan kawasan barat di Indonesia," kata Eddy kepada Republika, Rabu (6/5/2026).

Eddy menjelaskan ada beberapa faktor awan hujan itu akhirnya tumpah di Jabodetabek. Pertama, panasnya wilayah Jabodetabek dapat menarik awan tersebut. Kedua, bentuk pantai Jakarta tergolong landai dan ditopang teluk Jakarta.

"Dlihat dari segi pemanasan gitu lho, pemanasannya itu artinya kan Jakarta ini sebagai kota metropolitan, sebagai kawasan yang menghasilkan gas emisi terbesar gitu ya. Nah kan berarti pusat tekanan rendahnya itu pasti berkisar sekitar itulah makanya dia jatuh di kawasan Jakarta," ujar Eddy.

Eddy meramalkan hujan akan berkurang hingga akhir Mei. Berikutnya, Indonesia menyongsong musim kemarau pada Juni. Sebab, bulan ini merupakan masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.

"Jadi bulan Mei ini adalah akhir dari musim transisi (hujan-kemarau). Indikasinya apa? Curah hujannya masih ada, walaupun tidak dengan intensitas tinggi gitu ya. Artinya dengan satu bulan hujan yang besar hanya dalam waktu sehari dua hari itu, kita sudah lewati lah masa-masa itu. Jadi ini adalah akhir dari musim transisi bulan Mei," ujar Eddy.

Atas kondisi ini, Eddy mengimbau masyarakat tak perlu panik. Eddy mengamati cuaca ini tak berubah menjadi sangat ekstrim.

"Nggak usah panik lah, karena nggak mungkin jadi suatu kondisi ekstrem banget gitu," ujar Eddy. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement