Rabu 06 May 2026 12:38 WIB

Hujan Ekstrem Masih Terjadi di Jabodetabek, Ini Awal Musim Kemarau Menurut BMKG

Intensitas hujan tinggi dikarenakan aktifnya dinamika atmosfer.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Andri Saubani
Petugas kepolisian mengevakuasi warga dengan menggunakan perahu karet saat banjir melanda kawasan Pela Mampang, di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Senin (4/5/2026). Berdasarkan data BPBD DKI Jakarta pukul 19.00 WIB, sebanyak 51 RT dari 6 kelurahan di Jakarta Selatan terendam banjir dengan ketinggian 30-120 cm akibat luapan kali dan curah hujan tinggi.
Foto: ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan
Petugas kepolisian mengevakuasi warga dengan menggunakan perahu karet saat banjir melanda kawasan Pela Mampang, di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Senin (4/5/2026). Berdasarkan data BPBD DKI Jakarta pukul 19.00 WIB, sebanyak 51 RT dari 6 kelurahan di Jakarta Selatan terendam banjir dengan ketinggian 30-120 cm akibat luapan kali dan curah hujan tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap penyebab hujan lebat di wilayah Jabodetabek selama beberapa hari terakhir. BMKG mengamati kondisi itu terjadi akibat dinamika atmosfer yang mendukung pembentukan awan hujan.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengamati intensitas curah hujan di wilayah Jabodetabek dalam beberapa hari terakhir masih tergolong tinggi. Pada 4 Mei 2026 teramati hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem yang menyebabkan genangan hingga banjir, terutama di wilayah dataran rendah dan dengan kapasitas drainase terbatas.

Baca Juga

"Berdasarkan hasil pengamatan, hujan pada tanggal tersebut tercatat berada pada kategori lebat hingga ekstrem, dengan curah hujan tertinggi antara lain di Kabupaten Bogor sebesar 189,4 mm/hari, Kota Tangerang Selatan 99,2 mm/hari, dan Jakarta Selatan 94,8 mm/hari," kata Andri kepada Republika, Rabu (6/5/2026).

Andri menjelaslan tingginya intensitas hujan itu dikarenakan aktifnya dinamika atmosfer hingga mendukung pembentukan awan hujan. Dalam beberapa hari terakhir, terdapat pengaruh Madden–Julian Oscillation (MJO) serta gelombang atmosfer ekuatorial seperti Rossby, Kelvin, dan Mixed Rossby–Gravity yang meningkatkan aktivitas konvektif di wilayah Jawa bagian barat.

"Kondisi ini diperkuat oleh kelembapan udara yang masih tinggi serta labilitas atmosfer akibat pemanasan siang hari, sehingga proses pembentukan awan hujan tetap intensif, khususnya pada siang menjelang sore hingga malam hari," ujar Andri.

photo
Anak-anak bermain air saat banjir di Bojong Kavling, Rawa Buaya, Jakarta, Selasa (5/5/2026). BPBD DKI Jakarta mencatat hingga pukul 14.00 WIB terdapat 18 Rukun Tetangga (RT) dan satu ruas jalan masih terendam banjir dengan ketinggian berkisar 15 - 95 cm akibat tingginya curah hujan yang menyebabkan air kali meluap. - (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)

Andri menyebut pada awal musim kemarau seperti saat ini, peluang hujan memang masih dapat terjadi apabila terdapat gangguan atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan. Andri mengingatkan pola cuaca yang berubah cepat merupakan karakteristik umum pada fase peralihan. Contohnya kondisi panas pada siang hari kemudian disusul hujan lebat pada sore atau malam hari.

"Pemanasan matahari yang kuat memicu pembentukan awan konvektif secara lokal, yang kemudian berkembang menjadi hujan apabila didukung oleh kelembapan dan dinamika atmosfer," ujar Andri.

BMKG memperkirakan wilayah Jabodetabek mulai memasuki musim kemarau pada Mei dasarian II–III 2026 atau mulai 11 Mei-akhir Mei. Proses ini berlangsung secara bertahap.

"Dengan demikian, kondisi hujan yang masih tinggi saat ini bukan berarti Jakarta belum menuju kemarau, melainkan merupakan karakteristik fase peralihan, di mana hujan masih dapat terjadi akibat dinamika atmosfer yang masih aktif, meskipun tren ke depan akan berangsur menurun," ujar Andri. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement