REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI -- Gencatan senjata yang rapuh antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di ambang kolaps setelah pada Senin (4/5/2026) dilaporkan terjadinya serangan rudal dan drone menargetkan Uni Emirat Arab (UEA). Iran tidak mengonfirmasi atau membantah serangan ke UEA yang seperti dilaporkan Reuters, mengakibatkan pusat industri petroleum Fujairah terbakar hebat.
Sejak perang pecah pada akhir Februari lalu, UEA menjadi negara Arab yang ikut menjadi target serangan Iran. Namun berdasarkan data, UEA menjadi yang paling hebat dihantam oleh rudal dan drone Iran yang berdampak pada kerusakan pada aset militer AS tapi juga infrastruktur sipil, termasuk di Dubai.
Selama perang Iran, otoritas UEA mengeklaim bahwa mereka mencatat 29 rudal penjelajah, 549 rudal balistik, dan 2.260 drone menargetkan wilayah mereka. Khusus pada Senin, Kementerian Pertahanan UEA, lewat unggahan di X mengungkap total 12 rudal balistik, tiga rudal penjelajah, dan empat drone melintas di langit UEA mengakibatkan tiga orang luka ringan.
Lalu apa alasan di balik UEA menjadi magnet bagi munisi Iran yang telah mencoreng citra UEA sebagai negara penghubung ekonomi dan konektivitas global? Menurut laporan India Today, Selasa (5/5/2026), jawabannya adalah kombinasi faktor dari kedekatan geografis UEA dengan Iran; kebangkitan UEA sebagai kekuatan ekonomi besar di kawasan; dan kedekatan pihak kerajaan dengan dua musuh abadi Iran yakni AS dan Israel.
Menurut Brian Katulis, seorang peneliti senior dari Middle East Institute kepada The Hill, banyak kalangan di rezim Iran saat ini memandang UEA dengan kecemburuan dan rasa iri, khususnya terkait kesuksesan ekonomi UEA. Saat UEA menjadi di antara negara yang dianugerahi sumber minyak, negara itu juga meraih pencapaian sukses ekonomi melalui kebijakan diversifikasi ekonomi yang berkelanjutan.
Memposisikan diri sebagai penghubung utama di sektor properti, keuangan, dan pariwisata, citra UAE datang dari perannya sebagai kekuatan besar jalur penghubung logistik kelas-dunia. Pelabuhan seperti Jebel Ali dan bandara seperti Bandara Internasional Dubai (DXB), Bandara Internasional Abu Dhabi (AUH), dan Bandara Internasional Sharjah (SHJ) telah menciptakan gebang multimodal yang sangat efisien yang menghubungkan Asia, Eropa, dan Afrika.
Menimbang strategi Iran dalam memberi dampak maksimal krisis ekonomi, infrastuktur kritis transportasi dan logistik tak bisa terhindari menjadi target utama Teheran. Dalam perang belum lama ini, serangan Iran menghantam dan mendisrupsi beberapa objek vital, termasuk Bandara Internasional Dubai (DXB), Bandara Internasional Zayed, Pelabuhan Jebel Ali, dan fasilitas pelabuhan dan terminal minyak Fujairah.
Seperti yang Katulis katakan kepada The Hill, "Dengan menghantam UEA, Iran mencoba untuk melemahkan (UEA) yang memainkan peran penghubung kawasan yang lebih luas dengan aktor luar dan mengakibatkan efek riak yang lebih meluas terhadap ekonomi global dalam konteks investasi dan perdagangan, sebagai kelanjutan dari upaya untuk memberi dampak terhadap pasar energi global."
Senada, Brian Carter, seorang peneliti dari American Enterprise Institute (AEI), mengatakan bahwa UEA secara ekonomi 'rapuh', di mana kota yang paling padat dan gemerlap, Dubai, menjadi yang paling rapuh.
"Dubai, khususnya, memiliki atraksi berkaliber internasional di dalamnya dan kehadiran warga asing yang sangat banyak yang bisa menciptakan efek politik internasional saat anda menyerang UEA," kata Carter.
View this post on Instagram