Sabtu 02 May 2026 06:28 WIB

Tiga Analis Dunia Jelaskan Eropaisasi Jika AS Benar-Benar Minggat dari NATO

Eropa kini berdiri di persimpangan strategis.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Kapal Perang Jerman didatangi sejumlah alat utama sistem persenjataan dari negara NATO.
Foto: EPA-EFE/Adam Warzawa POLAND OUT
Kapal Perang Jerman didatangi sejumlah alat utama sistem persenjataan dari negara NATO.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perubahan lanskap keamanan global tidak lagi bergerak secara gradual, melainkan melompat dalam bentuk disrupsi struktural. Ketegangan di Timur Tengah, ketidakpastian komitmen Amerika Serikat, serta perang berkepanjangan di Ukraina kini berkelindan membentuk satu realitas baru: Eropa dipaksa meninjau ulang fondasi keamanannya sendiri.

Dalam konteks ini, perdebatan bukan lagi soal apakah ancaman terhadap Eropa meningkat, melainkan apakah arsitektur keamanan lama, terutama NATO, masih cukup untuk menjawabnya. Sejumlah analisis terbaru menunjukkan bahwa Eropa kini berdiri di persimpangan strategis: antara mempertahankan ketergantungan lama pada Washington atau membangun otonomi pertahanan yang lebih mandiri.

Baca Juga

Eropaisasi NATO tidak Terelakkan

Christian Mölling dari European Policy Centre melihat perubahan ini sebagai sesuatu yang struktural dan tak bisa dibalik. Menurutnya, NATO secara de facto sedang bergerak menuju “Eropaisasi”.

Ia menegaskan bahwa mulai 2027, kontribusi militer Amerika Serikat diproyeksikan hanya sekitar 50% dari total kekuatan aliansi, turun signifikan dari sebelumnya.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah NATO akan menjadi lebih Eropa, melainkan melalui jalur mana dan kapan,” ujarnya.

Mölling juga menekankan bahwa Eropa harus mulai mempersiapkan skenario ekstrem: kemampuan “berperang malam ini” tanpa dukungan AS. Ini bukan retorika, melainkan kebutuhan perencanaan strategis dalam menghadapi ketidakpastian politik di Washington.

Aliansi Lama Masih Krusial, tapi Retak

Berbeda dengan pendekatan struktural Mölling, analis keamanan dari Lexington Institute, Rebecca Grant, menyoroti pentingnya mempertahankan aliansi transatlantik, meski dalam kondisi retak.

Dalam analisanya, peran Raja Charles III menjadi simbol upaya diplomatik untuk menjaga hubungan AS-Inggris tetap utuh di tengah ketegangan, terutama sejak kebijakan luar negeri kontroversial di era Donald Trump.

“Persahabatan yang teguh dapat menjadi sekutu terbesar kebebasan,” kata Charles dalam pidatonya di Kongres AS.

Grant melihat bahwa kerja sama pertahanan seperti AUKUS, program F-35, serta integrasi teknologi tetap menjadi fondasi utama kekuatan Barat. Namun, ia mengakui adanya friksi nyata dalam perdagangan, kebijakan Iran, hingga regulasi teknologi.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement