REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peluh itu belum benar-benar kering ketika ponsel Siti Rahmadani bergetar tanpa henti. Pesanan masuk silih berganti, hanya beberapa menit setelah ia membuka preorder (PO)menu barunya.
Padahal, dimsum mentai dan Thai dessert yang ia jual baru saja dipelajarinya hari itu. Pelatihan kewirausahaan berbasis UMKM yang digelar Yayasan Indonesia Setara (YIS) di Tamini Square, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu, menjadi titik awal perubahan bagi Siti.
"Pelatihannya seru banget. Sebelumnya saya sudah berjualan, tapi ini menu baru. Masya Allah, baru beberapa menit open PO sudah ada yang pesan 700 pieces," ujar Siti dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (1/5/2026).
Bagi Siti, pelatihan itu bukan sekadar belajar resep baru. Dia juga untuk pertama kalinya mencoba memanfaatkan teknologi digital dalam berjualan. "Saya juga belajar bikin poster lewat ChatGPT. Ternyata cepat dan mudah, hasilnya malah lebih bagus," katanya.
Pengalaman serupa dirasakan Laily. Ibu rumah tangga ini menjadi peserta pelatihan bolu ketan hitam yang digelar YIS di Karawang pada 8 April 2026. Sepulang dari pelatihan, dirinya resmi menjadi wirausahawan.
"Hari ini jadi tahu cara buatnya. Bahkan diajarkan juga pakai AI untuk pemasaran. Setelah pelatihan, saya kirim ke grup WhatsApp, langsung ada yang pesan," ujar Laily.




