Jumat 01 May 2026 09:34 WIB

Terancam Israel, Turki Bangun Kapal Induk Lebih Besar dari Milik Prancis Charles de Gaulle

Kapal diperkirakan memiliki bobot 60 ribu ton dan panjang 285 meter.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Turki tengah membangun kapal induk lebih besar dari punya Prancis.
Foto: Kantor Kepresidenan Turki via EPA-EFE
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Turki tengah membangun kapal induk lebih besar dari punya Prancis.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Di tengah perhatian dunia tertuju pada blokade AS di Selat Hormuz, galangan kapal Turki dilaporkan tengah sibuk membangun kapal induk nasional pertama negara itu, Mugem.

Komandan Angkatan Laut Turki, Laksamana Ercument Tatlioglu, mengatakan pekan lalu bahwa kapal induk tersebut diperkirakan akan selesai menjelang akhir tahun depan.

Baca Juga

Pernyataan tersebut menyatakan bahwa lambung kapal akan selesai hampir setahun lebih cepat dari jadwal yang semula diumumkan.

Kapal tersebut, adalah kapal perang terbesar yang pernah dibangun di negara itu. Kapal diperkirakan memiliki bobot 60 ribu ton dan panjang 285 meter.

Kapal ini akan melampaui kapal induk Prancis Charles de Gaulle (261 meter, 42.500 ton), yang hingga saat ini merupakan kapal induk terkuat di Mediterania. Kapal ini dirancang untuk menampung 60 pesawat, dan dilengkapi dengan sistem lepas landas pendek.

Banyak pihak di Ankara melihat kemajuan pesat proyek ini, yang baru diluncurkan pada Agustus 2025 dengan kehadiran pribadi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. 

Seperti dilaporkan Middle East Eye, pembangunan ini merupakan tanda bahwa Turki bertekad untuk membangun persenjataannya guna meningkatakan kemampuan pertahanan. 

Pengerjaan kapal dilakukan di tengah ketegangan antara Turki dan Israel baru-baru ini. Ketegangan kedua pihak meningkat, dengan para pemimpin Israel dari pemerintah dan oposisi semakin menyamakan Turki dengan Iran dalam retorika mereka.

Naftali Bennett, seorang pemimpin oposisi populer yang kemungkinan akan menjadi perdana menteri Israel berikutnya, mengatakan dalam sebuah konferensi di Washington pada bulan Februari bahwa Turki adalah "Iran berikutnya".

Terisolasi di Mediterania Timur

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement