Rabu 29 Apr 2026 14:18 WIB

Horsens dan Kalah Tanpa Pamit, Ketika Tradisi Kehilangan Suara

Indonesia tersingkir dari Piala Thomas di fase grup setelah kalah 1-4 dari Prancis.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Fajar Alfian (kanan) bermain dengan Nikolaus Joaquin dalam pertandingan Piala Thomas 2026 melawan Thailand di Horsens, Denmark, Ahad (26/4/2026).
Foto: dok PBSI
Fajar Alfian (kanan) bermain dengan Nikolaus Joaquin dalam pertandingan Piala Thomas 2026 melawan Thailand di Horsens, Denmark, Ahad (26/4/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di sebuah kota kecil bernama Horsens, di Denmark, ada sesuatu yang terasa ganjil bagi publik Indonesia. Bukan hanya karena hasil pertandingan yang mengecewakan, tetapi karena cara kekalahan itu datang, cepat, nyaris tanpa seremoni, seolah-olah sebuah bab panjang dalam sejarah bulu tangkis Indonesia ditutup begitu saja tanpa jeda.

Indonesia tersingkir dari Piala Thomas 2026 di fase grup setelah kalah 1-4 dari Prancis. Angka itu sederhana, tetapi maknanya tidak. Ia bukan sekadar skor, melainkan sebuah jeda yang memaksa kita berhenti sejenak, menengok kembali narasi lama yang selama ini kita yakini sebagai sesuatu yang hampir pasti.

Baca Juga

Selama puluhan tahun, bulu tangkis bukan hanya olahraga bagi Indonesia. Ia adalah bagian dari identitas, sesuatu yang tumbuh bersama ingatan kolektif, diwariskan dari generasi ke generasi, seperti cerita keluarga yang tidak pernah benar-benar ditulis, tetapi selalu dipercaya akan tetap hidup. Empat belas gelar Piala Thomas menjadi fondasi keyakinan itu, sebuah bukti bahwa kejayaan bukan sekadar kenangan, melainkan tradisi.

Namun di Horsens, tradisi itu seperti kehilangan suaranya. Untuk pertama kalinya sejak lama, fase grup tidak lagi terasa sebagai formalitas. Ia berubah menjadi batas yang nyata, tempat di mana sejarah tidak lagi cukup untuk menjamin kelanjutan cerita.

Prancis, dalam hal ini, datang tanpa beban. Mereka tidak membawa nostalgia, tidak memiliki kewajiban untuk menghormati masa lalu Indonesia, dan tidak merasa perlu menyesuaikan diri dengan narasi besar yang selama ini kita bangun. Mereka bermain sebagaimana olahraga dimainkan, dengan fokus pada pertandingan hari ini, bukan pada cerita kemarin.

Di titik ini, ada sesuatu yang perlu diakui, mungkin dengan sedikit kejujuran yang terasa tidak nyaman. Bahwa selama ini, kita tidak hanya mencintai bulu tangkis, tetapi juga mencintai gambaran tentang diri kita sendiri di dalamnya. Kita tidak sekadar ingin menang, kita ingin tetap menjadi pihak yang memang seharusnya menang.

Perbedaan antara keduanya tampak tipis, tetapi dampaknya besar. Ketika kemenangan mulai jarang datang, yang goyah bukan hanya papan skor, tetapi juga cerita yang selama ini kita percayai. Kekalahan di Horsens bukan hanya kehilangan satu pertandingan, melainkan gangguan pada alur panjang yang selama ini terasa stabil.

Sementara itu, dunia di luar terus bergerak. Negara-negara lain tidak banyak menoleh ke belakang. Mereka tidak memiliki kemewahan untuk bernostalgia, sehingga memilih untuk bekerja lebih praktis. Mereka membangun sistem, memperbarui metode latihan, mengandalkan data, sport science, dan keberanian untuk bereksperimen.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement