REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Penanganan korban insiden kereta rel listrik (KRL) di Bekasi Timur sempat tersendat akibat membludaknya jumlah pasien, Senin (27/4/2026) malam hingga Selasa (28/4/2026) dini hari. Sejumlah korban harus menunggu berjam-jam sebelum mendapat tindakan medis.
Nur Afifah Putri (33), yang akrab disapa Nurul, menuturkan adiknya, Sharifah (29) atau Safa, termasuk yang harus menanti lama. Ia mengatakan, Safa baru mendapatkan penanganan setelah lebih dari tiga jam berada di rumah sakit.
“Masih nunggu, korbannya banyak,” kata Nurul kepada Republika, Selasa (28/4/2026) dini hari.
Safa merupakan warga Tambun Selatan yang sehari-hari bekerja di DKI Jakarta dan rutin menggunakan KRL. Ia menjadi salah satu penumpang yang terdampak dalam insiden tersebut.
Menurut Nurul, kondisi di rumah sakit sangat padat. Ia sempat mencari kemungkinan memindahkan adiknya ke rumah sakit lain, namun hal itu tidak bisa dilakukan karena keterbatasan ambulans.
“Tidak bisa pindah, ambulans penuh, dipakai semua, sampai yang dari kabupaten,” ungkapnya.
Ia juga menggambarkan situasi saat mencari Safa di lokasi kejadian. “Pas aku nyari Safa itu banyak banget, bertumpuk orang, Astaghfirullah,” kata dia.
Lihat postingan ini di Instagram




