Kamis 23 Apr 2026 06:53 WIB

Iran tidak akan Buka Selat Hormuz Selama AS Masih Terapkan Blokade Maritim

Blokade maritim AS dinilai Iran sebagai pelanggaran gencatan senjata.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Andri Saubani
Sebuah bilboard ukuran raksasa merujuk pada Selat Hormuz dengan teks berbahasa Persia yang artinya
Foto: EPA/Abedin Taherkenareh
Sebuah bilboard ukuran raksasa merujuk pada Selat Hormuz dengan teks berbahasa Persia yang artinya

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, negaranya tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama kapal Angkatan Laut AS masih melakukan blokade di wilayah perairan tersebut. Dia mengatakan, tindakan militer AS merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah disetujui kedua negara.

"Gencatan senjata lengkap hanya memiliki arti jika tidak dilanggar melalui blokade angkatan laut. Membuka kembali Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan di tengah pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata," kata Ghalibaf lewat akun X pribadinya, Rabu (22/4/2026), dikutip laman Al Arabiya.

Baca Juga

Hal itu disampaikan Ghalibaf saat AS dan Iran sedang berupaya menggelar kembali negosiasi putaran kedua. Pada Selasa (21/4/2026), Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu yang ditentukan. Langkah tersebut diambil Trump hanya beberapa jam sebelum kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran berakhir. 

New York Post, mengutip sejumlah sumber di pemerintahan Pakistan, melaporkan, negosiasi putaran kedua antara AS dan Iran dapat berlangsung di Islamabad dalam tiga hari ke depan. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif diketahui menjadi mediator dalam kesepakatan gencatan senjata AS-Iran yang disetujui pada 7 April 2026 lalu. 

"Itu mungkin," kata Trump saat dikonfirmasi New York Post soal apakah benar negosiasi putaran kedua antara AS dan Iran bakal berlangsung di Pakistan dalam tiga hari ke depan. 

Sesi pembicaraan pertama antara Washington dan Teheran 11 hari lalu tidak membuahkan kesepakatan. Negosiasi berlangsung alot ketika membahas soal program nuklir Iran. 

Dalam perundingan tersebut, AS menghendaki Iran menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya miliknya. AS beralasan, tindakan tersebut dibutuhkan agar Iran tak melakukan pengayaan lebih lanjut hingga mencapai titik material itu dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir.

 

 

l

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement