REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah Meksiko menegaskan komitmennya untuk menjamin keamanan penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 menyusul insiden penembakan di situs bersejarah Teotihuacan yang menewaskan seorang turis asal Kanada.
Peristiwa tersebut terjadi ketika seorang pria bersenjata melepaskan tembakan dari puncak piramida di kompleks wisata terkenal itu. Pelaku yang berusia 27 tahun dilaporkan membawa pistol serta pisau di dalam ranselnya, sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri setelah menimbulkan kepanikan di lokasi.
Pejabat setempat menyebut pelaku bertindak seorang diri dan melepaskan sedikitnya 14 tembakan yang melukai sejumlah pengunjung dari berbagai negara. Total 13 orang dilaporkan terluka, termasuk anak-anak, dengan tujuh di antaranya mengalami luka tembak.
Jaksa wilayah Negara Bagian Meksiko Luis Cervantes mengungkapkan, pelaku diduga terinspirasi oleh insiden kekerasan di luar negeri.
“Di antara barang-barangnya, pihak berwenang menemukan literatur, gambar, dan dokumen yang diduga terkait dengan tindakan kekerasan yang mungkin terjadi di Amerika Serikat pada April 1999,” ujarnya, merujuk pada Pembantaian Columbine.
Ia menegaskan bahwa aksi tersebut telah direncanakan sebelumnya. “Tindakan ini bukanlah spontan,” kata Cervantes.
Saksi mata menggambarkan situasi mencekam saat penembakan berlangsung. Seorang turis asal Los Angeles, Barak Hardley, mengaku mendengar rentetan tembakan yang terus menerus.
“Dia menembak terus menerus dan peluru-peluru itu mengeluarkan suara yang berbeda. Saya tidak tahu mengapa dia berhenti pada satu orang. Syukurlah dia berhenti.”