Rabu 22 Apr 2026 16:02 WIB

Batalion Kanibal OPM Klaim Bunuh 7 Intelijen Indonesia di Perbatasan Pegunungan Bintang-Yahukimo

OPM mengeklaim pembunuhan itu sebagai balas dendam aksi TNI.

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Teguh Firmansyah
Personel TNI AD berpatroli di pelosok Kabupaten Yakuhimo, Provinsi Papua (ilustrasi).
Foto: Dok TNI AD
Personel TNI AD berpatroli di pelosok Kabupaten Yakuhimo, Provinsi Papua (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAYAPURA — Kelompok separatis bersenjata Papua Merdeka mengeklaim melakukan pembunuhan terhadap tujuh orang yang diyakini sebagai intelijen militer Indonesia di perbatasan Pegunungan Bintang-Yahukimo, Papua.

Pembunuhan tersebut dikatakan sebagai respons atas operasi militer oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Kabupaten Puncak yang menewaskan 15 warga sipil dan melukai sejumah penduduk lokal lainnya pada pekan lalu.

Baca Juga

Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Sebby Sambom mengatakan, pembunuhan terhadap tujuh orang yang ditengarai sebagai intel itu dilakukan oleh Batalian Kanibal dari Kodap XVI Yahukimo pada 20 dan 21 April 2026.

“Dalam operasi tersebut kami mengeksekusi tujuh orang agen intelijen militer pemerintah Indonesia hingga tewas,” ujar Sebby melalui siaran pers yang diterima Republika di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

“Kami pasukan TPNPB Kodap XVI Yahukimo bertanggung jawab atas seluruh korban yang telah dieksekusi itu,” kata Sebby menambahkan.

Dia mengatakan, sikap TPNPB-OPM dalam rangkaian pembunuhan di perbatasan Pegunungan Bintang-Yahukimo itu sebagai sikap yang siap untuk melawan semua operasi militer TNI di Tanah Papua.

Menurut Sebby, Pemerintah Indonesia, mulai dari kepala negara, sampai jajarab menteri pertahanan, serta para panglima militer Indonesia juga harus bertanggung jawab atas tewasnya 15 warga sipil dalam operasi penindakan di Kabupaten Puncak beberapa waktu lalu.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement