Senin 20 Apr 2026 07:24 WIB

PM Spanyol Serukan Uni Eropa Putuskan Perjanjian Asosiasi dengan Israel

Menurut Pedro Sanchez, Israel sudah tak layak menjadi mitra perhimpunan Benua Biru.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Andri Saubani
Pernyataan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez soal kebijakan mengirimkan kapal perang mengawal Armada Sumud, Rabu (24/9/2025).
Foto: Kantor Perdana Menteri Spanyol
Pernyataan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez soal kebijakan mengirimkan kapal perang mengawal Armada Sumud, Rabu (24/9/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, MADRID -- Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez akan menyerukan Uni Eropa mengakhiri perjanjian asosiasinya dengan Israel. Menurut Sanchez, Israel sudah tak layak menjadi mitra perhimpunan Benua Biru. 

“Pada hari Selasa, Pemerintah Spanyol akan mengajukan proposal kepada Uni Eropa agar Uni Eropa memutuskan perjanjian asosiasinya dengan Israel,” kata Sanchez dalam sebuah rapat umum politik di Andalusia, Ahad (19/4/2026), dikutip laman Al Arabiya. 

Baca Juga

Sanchez menekankan, Israel telah secara gamblang melanggar berbagai hukum internasional. "Oleh karena itu (Israel) tak dapat menjadi mitra Uni Eropa. Sesederhana itu," ujarnya. 

Pada Jumat (17/4/2026), Spanyol, Irlandia, dan Slovenia telah mengirim surat kepada Komisi Eropa. Mereka menyerukan agar kesepakatan dengan Israel dibahas pada pertemuan menteri luar negeri Uni Eropa berikutnya.

Pada 1995, Uni Eropa dan Israel menandatangani EU-Israel Association Agreement. Ia menjadi fondasi hukum utama yang mengatur hubungan Uni Eropa dengan Tel Aviv. Meski diteken pada 1995, perjanjian tersebut baru mulai berlaku pada bulan Juni tahun 2000. 

 

photo
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. - (EPA-EFE/CLEMENS BILAN)

 

 

EU-Israel Association Agreement mencakup klausul yang mewajibkan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Spanyol dan Irlandia pertama kali menyerukan peninjauan kembali kesepakatan tersebut pada 2024. Kala itu, Israel tengah membombardir Jalur Gaza secara brutal. Dengan dalih menyerang fasilitas Hamas, Israel membantai warga sipil Gaza, termasuk perempuan dan anak-anak. 

 

Spanyol dan Irlandia termasuk negara yang vokal melayangkan kritik serta kecaman keras atas agresi Israel ke Gaza. Pada 2024, Pemerintah Spanyol dan Irlandia memutuskan mengakui negara Palestina. Langkah tersebut dikritik tajam oleh Israel. 

 

Bulan ini Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Spanyol melancarkan kampanye diplomatik yang bermusuhan terhadap negaranya. “Israel tidak akan tinggal diam menghadapi mereka yang menyerang kita,” kata Netanyahu saat itu.

 

“Saya tidak siap untuk mentoleransi kemunafikan dan permusuhan ini. Saya tidak akan membiarkan negara mana pun melakukan perang diplomatik terhadap kami tanpa menghadapi konsekuensi langsung," tambah Netanyahu. 

 

 

 

 

View this post on Instagram

sumber : Antara, Anadolu
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement