Rabu 15 Apr 2026 06:03 WIB

Tren Kripto Meningkat, Mahasiswa Didorong Pahami Risiko dan Strategi Investasi

Literasi keuangan jadi fondasi penting menghadapi pasar yang volatil.

Pintu menggelar acara Pintu Goes to Campus bertajuk Financial Literacy di Bale Sawala, Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, Bandung, Jawa Barat, pada Rabu (9/4/2026).
Foto: Dok Republika
Pintu menggelar acara Pintu Goes to Campus bertajuk Financial Literacy di Bale Sawala, Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, Bandung, Jawa Barat, pada Rabu (9/4/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — PT Pintu Kemana Saja (Pintu) terus memperluas inisiatif edukasi dan literasi keuangan. Pintu menggelar acara Pintu Goes to Campus bertajuk Financial Literacy di Bale Sawala, Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, Bandung, Jawa Barat, pada Rabu (9/4/2026).

Kegiatan ini dihadiri lebih dari 200 mahasiswa serta diisi dengan penyerahan penghargaan kepada delapan mahasiswa Unpad berprestasi.

Baca Juga

Rektor Unpad Arief Sjamsulaksan Kartasasmita menekankan pentingnya literasi keuangan bagi mahasiswa di tengah perkembangan produk keuangan yang semakin beragam.

“Literasi keuangan, termasuk literasi kripto dan investasi, merupakan hal yang sangat penting untuk dipahami. Tanpa pemahaman yang baik, berbagai produk keuangan berpotensi menimbulkan masalah di masa depan,” ujarnya dalam keterangan, Rabu (15/4/2026).

Djoko Kurnijanto menambahkan masih terdapat kesenjangan antara tingkat literasi dan inklusi keuangan, khususnya pada aset kripto.

“Kami terus mendorong agar masyarakat tidak sekadar ikut tren dalam berinvestasi. Prinsip 2L, yakni legal dan logis, harus menjadi acuan. Pastikan aset dan platform yang digunakan telah berizin serta tidak mudah tergiur iming-iming keuntungan pasti,” kata Djoko.

Sementara itu, Chief Marketing Officer Pintu Timothius Martin menyoroti pesatnya pertumbuhan adopsi kripto, baik secara global maupun domestik.

“Secara global, sekitar 700 juta orang telah berinvestasi di kripto. Di Indonesia, jumlah investor telah mencapai sekitar 21 juta, bahkan melampaui jumlah investor saham. Tantangan utamanya bukan lagi adopsi, melainkan literasi,” ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement